Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts
Official Poster

Lebaran 2016 kemarin banyak film Indonesia yang tayang. Rudy Habibie, Sabtu Bersama Bapak, Jilbab Traveler Love Sparks In Korea, Koala Kumal, dan lain-lain. Dari semua film yang ada, kita memutuskan untuk nonton Jilbab Traveler Love Sparks In Korea. Meski harus pindah jam nonton karena bioskop penuh sesak dan antrian pembelian tiket yang panjang. Saya, Uyuy, Teh Aney, Teh Sri, Teh Nung, dan satu lagi temannya Teh Aney yang saya lupa namanya kebagian tiket jam 14.30.
View Post

Judul : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika Penerbit (PT Pustaka Abdi Bangsa)
ISBN : 978-602-0822-15-0
Tebal Buku : 698 Halaman

View Post
Sumber gambar klik disini
Kesimpulan pertama saya setelah nonton film Everest adalah: Gak deh naik Everest. 

Lagi pula siapa yang mau ngajak saya pergi kesana, berkhayal banget itu mah hehe. Ini kan umpamanya. Kalau sekedar memandanginya dari kaki gunung sih gak masalah, tapi untuk diuji adrenalinnya mendaki Everest sampai ke puncak rasanya saya gak sanggup. Ah, kalah sebelum berperang namanya. Tapi film ini berhasil membuat saya memberi cap Gunung Everest itu selain indah adalah, kejam.

View Post
James Dashner berhasil membuat alur cerita unpredictable sekaligus menegangkan. Sequel dari trilogi novel Maze Runner, Scorch Trials, dan Death Cure akhirnya rilis juga September 2015. Film nya saja sudah membuat saya melotot, apalagi kalau baca novelnya ya? Sayang sekali, saya belum baca karya aslinya.

View Post

 

Tak ku simpan rahasia pada hawa, meski tak juga ku ceritakan semua
Bahwa padanya, hanya ada sedikit cinta -Asma Nadia
Setelah sukses dengan film Assalamu'alaikum Beijing, novel Asma Nadia kembali diangkat ke layar lebar dengan judul sama yaitu Surga Yang Tak Dirindukan. Tayang awal lebaran 2015 dan sampai saat ini masih bertahan di jajaran bisokop seluruh Indonesia. Masih bertema tentang cinta namun kali ini lebih mengharu biru.

View Post
Image source click here
Aku mengetahui Masjid Habiburrahman ketika masih berseragam putih abu. Waktu itu kakak tingkat di organisasi mengajakku untuk mabit disini. Lokasinya sangat dekat dengan Bandara Husein Sastranegara Bandung, tepatnya di Jl. Kapten Tata Natanegara, Bandung, Jawa Barat. Kalau dari arah Cimahi cukup naik angkot jurusan Cimahi-Stasiun turun di lampu merah pertama Jl. Pajajaran lalu berjalan kaki sekitar 20 menit. Karena jauh dari jalan utama yang dilalui kendaraan umun, untuk menuju Masjid Habiburrahman lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Kalau Bulan Ramadhan seperti ini, Masjid Habiburrahman tidak pernah sepi jamaah, apalagi di sepuluh malam terakhir Ramadhan. 

View Post
Beberapa waktu yang lalu aku menyelesaikan novel  Bumi Cinta, buku yang sudah lama aku beli tapi baru sempat mau membacanya. Bagiku status novelis nomor satu Indonesia yang diberikan UNDIP sangat layak disandangkan kepada Kang Abik. Karena hampir setiap novelnya selalu meledak dan tidak jarang diangkat ke layar lebar. Setiap kalimatnya pun mampu menggugah jiwa dan menyihir pembaca untuk larut dalam alur ceritanya. Setelah membaca novel Bumi Cinta aku jatuh cinta dengan sosok Ayyas, pribadi yang luar biasa dalam menjaga iman dan kehormatannya sebagai seorang muslim. Ah sepertinya aku selalu jatuh cinta kepada tokoh-tokoh dalam novel Kang Abik. Tapi Ayyas yang paling aku suka *keukeuh*

View Post
Sumber gambar klik disini. Nur Dann sangat cantik, foto aslinya ada di dalam buku.
“Sejak umur 11 tahun.”
“Buat apa nge-rap?”
“Senang saja. Es ist cool…”
“Mau nge-rap terus?”
“Yap!”
“Tadi nyanyi tentang apa?”
“Itu? Uh.. eh.. tentang jilbab. Orang berjilbab bisa juga nge-rap. Dengan jilbab, kita bisa mengubah dunia setitik lebih baik.”
“Gak paham. Bagaimana mengubahnya?”
“Mengubah prespektif, cara pandang orang tentang jilbab yang dibilang sumber kekolotan perempuan muslim. Jilbab itu ya kayak kalian pakai top rap dimiringkan. Bisa nyaman kalau pakai itu saat nge-rap. Saya bilang, kalau pakai jilbab, saya baru bisa merasa nyaman. Nyaman ketika berbicara dengan orang, ketika bersekolah, ketika bekerja juga nantinya. Atau apa pun.”
“Ini caramu berdakwah, begitu?”
“Ja!”
“Liriknya bikin sendiri?”
“Ya. The lyrics came from my heart.”

View Post
Sumber gambar : http://danausaha.net/wp-content/uploads/2013/06/Ide-Bisnis-Usaha-Florist-Dari-Hobi-Jadi-Uang.jpg
"Kau mau beli bunga?" tanya Markus.
Saya tertangkap basah tengah mengagumi dan menciumi mawar saat dia memarkir mobil di pinggir jalan. Saya serbasalah. Saya pun mengangguk sekenanya.
"Ya, spesial untuk Ce Siti," imbuh saya.
Ce Siti adalah panggilan istri Markus, Siti Zubaidah Klinker.
"Tapi saya tidak tahu cara membelinya," saya melanjutkan.

View Post
"Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya." -Asma Nadia
Assalamu’alaikum Beijing adalah sebuah film yang diangkat dari novel karya Asma Nadia dengan judul sama. Tayang perdana di bioskop pada 30 Desember 2014 dan sampai hari ini masih bertahan di jajaran tayang bioskop seluruh Indonesia. Meski sudah tayang hampir tiga pekan lamanya, film Assalamu’alaikum Beijing masih mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Sebagai bukti, ketika saya menonton setengah theater penuh oleh penonton.

Saya belum bisa membayangkan alur ceritanya akan seperti apa karena saya belum membaca novelnya. Tapi, Bunda Asma seringkali bilang dalam akun twitternya kalau novel Assalamu’alaikum Beijing adalah novel paling romantis yang pernah beliau tulis. Saya jadi penasaran seperti apa ceritanya.

Diawali dengan batalnya pernikahan Asma (Revalina S. Temat) dan Dewa (Ibnu Jamil) karena Asma mendapatkan kenyataan pahit bahwa calon suaminya telah berselingkuh dengan teman kantornya sendiri. Masalah ini membuat Asma mengambil keputusan untuk bekerja di Beijing. Kesibukan menjadi seorang reporter di Beijing perlahan membantu Asma melupakan masalahnya. Dibantu oleh sahabatnya yang menetap disana Sekar (Laudya Chyntia Bella) dan Ridwan (Deddy Mahendra Desta), Asma berkeliling Beijing untuk menjalankan tugasnya sebagai reporter. Hingga pada akhirnya Asma bertemu dengan Zhong Wen (Morgan Oey) dan menjalani hari-harinya bersama Zhong Wen.

Saya sangat suka dengan masing-masing karakter yang diperankan, terlihat begitu pas. Apalagi karakter Zhong Wen yang diperankan oleh Morgan Oey yang terlihat sangat natural, jauh lebih keren dari ekspetasi saya sebelumnya. Sebagai orang baru di layar per-film-an, akting Morgan Oey di film ini patut diacungi jempol. Begitupun dengan Revalina, Bella, dan Desta. Pasangan suami istri Sekar dan Ridwan yang cukup kocak menjadi bumbu pelengkap yang membuat film ini semakin menarik. Saya sangat suka dengan cara mereka memainkan peran. Menerjemahkan kata demi kata yang ditulis oleh Asma Nadia menjadi sebuah akting yang luar biasa. Satu lagi, keindahan Beijing benar-benar tergambar disini, membuat saya ingin menginjakan kaki di tembok terpanjang itu.

Nilai-nilai islam yang terkesan kuno diramu dengan sangat ringan di film ini, dimana setiap adegannya mampu menunjukan bahwa syariat islam itu universal, cocok diterapkan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Contohnya saja ketika Asma menjelaskan jilbab dan pemikiran islam kepada Zhong Wen, tidak ada unsur diskriminatif disana. Karakter Asma benar-benar menunjukan keindahan akhlak seorang muslim terhadap sesama.

Nilai selanjutnya yang ingin ditunjukan dalam film ini adalah tentang pernikahan se-iman. Bagaimanapun kondisinya, pernikahan haruslah seiman, agar surga menjadi tujuan. Seketika hati ini meleleh ketika Zhong Wen meminta restu kepada ibunda Asma untuk menikahi putrinya, padahal kondisi Asma dalam keadaan sakit parah, yang nantinya penyakit tersebut akan memunculkan banyak resiko. Sebuah pelajaran hadir lagi disini bahwa cinta itu tentang ketulusan..
"Tidak perlu fisik yang sempurna untuk kisah cinta yang sempurna.” -Zhong Wen
Saya sempat meneteskan air mata, berkali-kali terharu melihat ketegaran seorang Asma dan kekuatan tekad seorang Zhong Wen. Kisah cinta sederhana namun tidak biasa, kisah cinta yang mengajarkan banyak hal tentang lika-liku kehidupan. 

Oh iya satu lagi yang cukup penting, meski ber-genre drama romantis film ini aman dari adegan-adegan dewasa, tapi tanpa mengurangi makna romantisme tersebut.
“Anak ini akan setangguh kisah cinta Ayah dan Ibunya.” -Asma
Ahh, ending yang mengharu biru. Banyak kemudahan-kemudahan yang Allah berikan ketika hamba-Nya menyerahkan segala urusan kepada Allah. Banyak keajaiban-kejaiban yang Allah hadirkan ketika benar-benar hanya Dia sebagai tujuan.

Barakallahu fiik Bunda Asma Nadia, terimakasih untuk sebuah karya yang luar biasa. Kami selalu menunggu karya-karya Bunda Asma selanjutnya :)


Bandung, 19 Januari 2015
Oleh Tia Yusnita


View Post
Berikut adalah naskah yang saya kutip dari Novel Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy halaman 335-337. Gagasan dari seorang Badiuzzaman Said Nursi tentang pilar yang harus dimiliki oleh sebuah bangsa. Menurut saya gagasan tersebut sangat bagus dan masih sangat relevan untuk diterapkan disebuah bangsa.

Source : Google
"Lima pintu surga itu, tak lain dan tak bukan adalah lima pilar yang harus dimiliki, dihayati dan diamalkan suatu bangsa agar surga ketentraman, kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, dan kemajuan bisa diraih dan dirasakan seluruh rakyat bangsa itu. Lima pilar itu adalah :

1. Persatuan Hati
Badiuzzaman menjelaskan bahwa seluruh rakyat harus bersatu padu mempertahankan integritas bangsanya. Bersatu melawan musuh-musuh yang menginginkan kematiannya. Bersatu padu seumpama gerakan sholat dalam jamaah yang rapi.

2. Cinta Bangsa
Semua pribadi yang ada dalam suatu bangsa harus memiliki cinta kepada bangsanya melebihi dirinya sendiri. Cinta bangsa berarti juga menjauhi bermusuh-musuhan sesama anak bangsa.

3. Pendidikan
Hanya jika seluruh rakyat memperoleh pendidikan yang baik, dan menjadi manusia yang berkualitas, maka sebuah bangsa akan maju dan mencapai cita-cita kemakmurannya. Pendidikan yang dimaksudkan Said Nursi adalah pendidikan yang menyatukan pendidikan agama dan pendidikan ilmu modern yang bukan agama. Bukan pendidikan yang hanya mengedepankan ilmu modern dan meninggalkan agama.

4. Memaksimalkan Daya Upaya Manusia
Itu berarti semua orang dihargai keahliannya sehingga memperoleh pekerjaan yang layak dengan gaji yang memadai. Dengan itu, maka semua rakyat akan menggunakan tenaga dan pikirannnya secara positif. Dan kreatifitas akan terus terproduksi. Negara pun maju. Bangsa menjadi makmur. Pengangguran membuat tenaga rakyat terbuang sia-sia dan menjadikan pikiran mandek serta beku.

5. Menghentikan Pemborosan dan Pemubadziran
Seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun rakyat harus berdisiplin menghentikan pemborosan, hidup seadanya, tidak pamer materi dan berlebih-lebihan."

#ReviewNovelApiTauhid
View Post