Akhir-akhir ini media dihebohkan dengan kasus kejahatan
seksual dibawah umur sampai korban meninggal dunia. Kabarnya, hukuman yang
diberikan kepada si pelaku tidak setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya.
Yuyun, gadis berusia 14 tahun yang diperkosa
oleh sekelompok pemuda di Bengkulu hingga tewas seharusnya menjadi duka kita
semua. Bahkan salah satu media menyebutkan, saat korban sudah tidak bernyawa
mereka masih melampiaskan kebejatannya secara bergiliran. A’udzubillahiminasyaitaanirrajiim.
Kebanyakan
pelaku mengaku melakukan itu setelah minum minuman keras dan menonton
video porno. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kasus ini? Pihak
kepolisian, keluarga tersangka, atau penjual miras yang masih saja membuka
praktik jual belinya?
Inilah zaman dimana akhlak dan nilai-nilai agama
tidak masuk kedalam kurikulum pendidikan keluarga. Kita tak bisa menyalahkan
kemajuan teknologi yang membuat anak-anak mudah mengakses video porno. Kita juga
tak bisa menyalahkan para penjual minuman keras yang masih saja bandel
melakukan transaksi. Tapi kita bisa mengendalikan dan memilihkan sesuatu yang
baik.
Belum reda kasus Yuyun, menyusul kejahatan
seksual lain yang menimpa anak-anak dibawah umur. Sungguh, saya sangat miris
mendengarnya. Betapa saat nilai-nilai agama tidak diminati lagi oleh sebagian
pemuda dalam bergaul. Padahal keduanya lah yang bisa menuntun dan membatasi.
Ketika nilai-nilainya sudah sangat jauh ditinggalkan, bersiaplah akan generasi yang
tak tahu iman.
Lalu apa yang harus pertamakali diperbaiki?
Mengingat banyak faktor yang menjadi sebab kejahatan seksual.
Tak perlu jauh-jauh mencari sebab, tak perlu
mutar-mutar saling menunjuk. Orang-orang terdekatlah yang seharusnya membuka
mata dan hati, dalam hal ini adalah orangtua terhadap anak-anaknya.
Anak-anak krisis teladan dan penanaman
nilai-nilai agama. Lingkungan mendukung terjadinya kejahatan seksual. Orang tua
tak mampu menjadi benteng ketahanan anak-anaknya. Maka memperbaiki kurikulum
pendidikan dalam keluarga adalah hal yang sangat bisa dilakukan saat ini. Akar
yang tertancap kuat kedalam tanah tidak akan mudah goyah. Keimanan yang tertancap
kuat di hati tidak akan mudah membawa manusia kedalam jurang kenistaan.
Muhammad Al-Fatih menjadi pemimpin perang diusia belasan, tidak lain karena pendidikan yang diberikan oleh ayahnya. Teladan yang dilihatnya setaip hari. Dan ayahnya selalu mengisahkan orang-orang hebat padanya seperti Rasulullah saw dan para sahabat. Sehingga terbentuklah pemuda belia yang baik akhlaknya. Tapi saat ini sulit sekali menemukan yang seperti itu. Berita-berita negatif yang banyak memenuhi media kita.
Semoga tidak ada lagi Yuyun-yuyun berikutnya yang menjadi korban. Semoga si pelaku diberi hukuman setimpal. Semoga kita bisa sama-sama belajar dengan adanya kasus ini sehingga membuat kita semakin waspada. Saling membentengi satu sama lain. Yang paling utama, lebih mendekat pada Allah seraya memohon dijauhkan dari segala bentuk perbuatan keji yang mungkin saja akan menimpa diri kita, anak-anak kita, adik-adik kita, keluarga kita, dan generasi muda di Indonesia.
Semoga tidak ada lagi Yuyun-yuyun berikutnya yang menjadi korban. Semoga si pelaku diberi hukuman setimpal. Semoga kita bisa sama-sama belajar dengan adanya kasus ini sehingga membuat kita semakin waspada. Saling membentengi satu sama lain. Yang paling utama, lebih mendekat pada Allah seraya memohon dijauhkan dari segala bentuk perbuatan keji yang mungkin saja akan menimpa diri kita, anak-anak kita, adik-adik kita, keluarga kita, dan generasi muda di Indonesia.
semoga para orang tua segera memahami pentingnya pembentukan akhlak anak sejak dini.
ReplyDelete