Bermula
ketika aku membuka kembali folder foto perjalanan ke Turki akhir tahun lalu,
aku merasa tidak bisa move on dari Negara yang berdiri diatas dua benua itu,
tentang segala sudut yang aku kunjungi, tentang musim dingin yang aku lewati.
Kalau aku jatuh cinta pada Makkah sebelum melihatnya, maka aku jatuh cinta pada
Turki setelah melihatnya. Aku benar-benar jatuh cinta semenjak roda pesawat
sempurna menyentuh landasan Istanbul yang sedang mendingin.
Adalah sebuah tempat bernama
Blue Mosque yang berhasil menguras air mataku. Bukan karena saat itu adalah
hari terakhir perjalananku di Turki, melainkan karena rasa syukur yang tidak
bisa aku ungkapkan lagi. Ketika adzan dzuhur berkumandang aku segera menuju
tempat wudhu. Meskipun tidak seluas Masjid Istiqlal di Jakarta, sebagai orang
yang pertamakali kesini aku cukup kebingungan mencarinya. Sementara yang lain
masih sibuk berfoto di pelataran Masjid, aku buru-buru agar bisa ikut sholat
berjamaah. Ternyata tidak banyak wanita yang sholat berjamaah disini. Hanya
satu shaf saja, itu pun tidak penuh. Aku jadi teringat ketika di Ankara, aku
tidak menemukan tempat wudhu khusus wanita, space sholat untuk wanitanya hanya
cukup untuk empat sampai lima orang. Setelah aku telusuri, ternyata Turki
memegang mazhab yang berbeda dengan Indonesia. Di Turki, wanita dianjurkan untuk sholat dirumah saja.
Tempat wudhu Blue Mosque |
Pelataran Blue Mosque |
Untuk menghormati masjid,
wisatawan harus berpakaian sopan saat memasuki ruang masjid. Wanita harus
mengenakan kerudung. Penjaga selalu siap mengingatkan di depan pintu masuk.
Begitu sampai di dalam, sebagian orang melakukan shalat sunah masjid. Sementara
sebagian lain memandang masjid dari bagian shaf belakang. Sebab, bagian depan
hanya diperkenankan bagi mereka yang hendak melakukan ibadah sholat.
Sekilas tentang latar
belakang dibangunnya Masjid Biru. Sultan
Ahmed I membangun Masjid Biru untuk menandingi bangunan Hagia Sophia buatan
kaisar Byzantine yaitu Konstantinopel. Hagia Sophia berada satu blok dari
Masjid Biru. Hagia Sophia dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke
daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M.
Rasanya tidak ada alasan
karya arsitek Mehmed Aga yang dibangun pada 1609-1616 ini disebut dengan nama
Masjid Biru. Interior Blue Mosque dihiasi 20.000 keping keramik biru yang diambil dari tempat kerajinan
keramik terbaik di daerah Iznik. Kawasan Turki yang terkenal menghasilkan
keramik nomor satu berwarna biru, hijau, ungu, dan putih. Karpet sutera yang
menutup lantai masjid berasal dari penghasil sutera terbaik dan lampu-lampu
minyak yang terbuat dari kristal merupakan produk impor. Banyak terdapat
barang-barang dan hadiah berharga di masjid ini, termasuk Al-Quran bertuliskan
tangan. Keramik yang menghiasi dinding masjid bermotifkan daun, tulip, mawar,
anggur, bunga delima atau motif-motif geometris. Satu hal lagi yang membuatku
terkesan, terdapat 260 jendela di dalam masjid ini yang akan membuat siapa saja
betah berdiam lama-lama didalamnya.
Takbiratul ikhram tanda
dimulainya sholat menggema memenuhi isi ruangan. Semua manusia bertasbih,
dinding bercorak Kekaisaran Ottoman seperti bergetar. Aku merasa sangat dekat
dengan masa itu, masa dimana Muhammad Al-Fatih menaklukan Konstantinopel. Hari
dimana suara takbir menggoncangkan langit Istanbul dan Masjid ini menjadi salah
satu saksinya. Usai sholat aku memilih untuk berdiam diri sejenak, menatap
langit-langit Masjid yang begitu indah dan kokoh. Tapi aku tidak bisa
berlama-lama disini karena rombongan yang lain harus diantar pukul 14.00 menuju
bandara. Sebelum melangkahkan kaki aku bersalaman dengan dua orang ibu yang
sholat disampingku.
“Assalamu’alaikum
warahmatullah.”
“Wa’alaikumussalaam warahmatullah.”
“Are you from Endonezya?”
“Yes I’m from Endonezya.”
“Saya suka Indonesia dan ingin sekali mengunjunginya.”
“Dengan senang hati, datanglah ke Negeri kami. Saya juga suka Turki, Turki Negeri yang sangat indah. Saya ingin kembali lagi kesini lain waktu.”
“Oh terimakasih.”
“Senang bertemu dengan Ibu. Bolehkah kita foto bersama?”
“Ya tentu saja.”
“Wa’alaikumussalaam warahmatullah.”
“Are you from Endonezya?”
“Yes I’m from Endonezya.”
“Saya suka Indonesia dan ingin sekali mengunjunginya.”
“Dengan senang hati, datanglah ke Negeri kami. Saya juga suka Turki, Turki Negeri yang sangat indah. Saya ingin kembali lagi kesini lain waktu.”
“Oh terimakasih.”
“Senang bertemu dengan Ibu. Bolehkah kita foto bersama?”
“Ya tentu saja.”
Bersama dua orang Ibu yang ramah |
Aku merasakan keindahan agama
ini, meskipun berbeda bangsa dan belum pernah mengenal satu sama lain, kami
tidak canggung untuk saling menyapa. Ditambah dengan ucapan salam yang
mengandung do’a. Sebuah kalimat yang menginginkan lawan biacaranya dilimpahkan
rahmat serta keselamatan, makna yang begitu dalam dari sebuah ucapan salam.
Sebelum benar-benar berpisah, Ibu itu merogoh sesuatu dari dalam sakunya, lalu
mengambil tanganku dan memberikan sebuah tasbih digital.
“This for you. Nice to meet you.”
“Tesekkur ederim. Nice
to meet you too.”
“Bir sey degil."
Indahnya Blue Mosque...
ReplyDeleteSubhanallah, alhamdulillah :)
Delete