Bermula
ketika aku membuka kembali folder foto perjalanan ke Turki akhir tahun lalu,
aku merasa tidak bisa move on dari Negara yang berdiri diatas dua benua itu,
tentang segala sudut yang aku kunjungi, tentang musim dingin yang aku lewati.
Kalau aku jatuh cinta pada Makkah sebelum melihatnya, maka aku jatuh cinta pada
Turki setelah melihatnya. Aku benar-benar jatuh cinta semenjak roda pesawat
sempurna menyentuh landasan Istanbul yang sedang mendingin.
Showing posts with label Turkey. Show all posts
Showing posts with label Turkey. Show all posts
![]() |
| Kebab yang biasa dijumpai di Indonesia |
"Ti, kalau pulang jangan lupa bawa Kebab."
Pesan yang masuk ke inbox facebook ketika salah satu temanku mengetahui aku sedang berada di Turki. Disaat teman-teman yang lain minta dibawakan foto, gantungan kunci, dompet, dan oleh-oleh lain pada umumnya, temanku yang satu ini malah minta dibawakan kebab. Ya, selain Aya Sofya, Blue Mosque, dan Topkapi, satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah menikmati Kebab.
Episode perjalanan ini tidak selamanya menyimpan cerita bahagia, ada juga hal-hal yang membuat saya pasrah dan benar-benar hanya punya senjata bernama do’a.
Sore itu, bus menepi ke samping trotoar. Saatnya melanjutkan perjalanan seorang diri dan berpisah dari rombongan. Berat rasanya langkah saya turun dari bus yang selama dua minggu ini mengantarkan kami mengunjungi berbagai tempat di Turki, tapi bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Nadriye membantu menurunkan koper dan memberhentikan salah satu taksi yang berlalu lalang disekitaran Istanbul. Terlihat percakapan antara Nadriye dan supir taksi itu. Entah saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkin nego harga, memberitahu alamat tujuan, atau menginformasikan kalau penumpangnya ini tidak mengerti bahasa Turki.
Sore itu, bus menepi ke samping trotoar. Saatnya melanjutkan perjalanan seorang diri dan berpisah dari rombongan. Berat rasanya langkah saya turun dari bus yang selama dua minggu ini mengantarkan kami mengunjungi berbagai tempat di Turki, tapi bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Nadriye membantu menurunkan koper dan memberhentikan salah satu taksi yang berlalu lalang disekitaran Istanbul. Terlihat percakapan antara Nadriye dan supir taksi itu. Entah saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkin nego harga, memberitahu alamat tujuan, atau menginformasikan kalau penumpangnya ini tidak mengerti bahasa Turki.
This is last post, but not last story!
Ini adalah tulisan terakhir di serial Notes From Turkey karena saya pikir tidak lengkap menulis tanpa ending. Menceritakan perjalanan selama di Turki tidak akan ada habisnya, maka untuk cerita tentang Turki yang lain akan saya tulis di postingan tersendiri, tidak masuk kedalam serial Notes From Turkey. Saya belum cerita tentang Cappadocia, Underground City, Hagia Sophia, dll. Untuk itu nanti saya tulis di postingan terpisah. Baik, last day.. Rasanya campur aduk. Bahagia karena saya sudah rindu Indonesia, sedih karena harus meninggalkan Turki dan berpisah dengan orang-orang luar biasa.
Bayang-bayang Pamukkale masih memenuhi isi kepala. Saya benar-benar takjub dengan undukan bukit putih yang menyerupai salju itu. Tiga jam rasanya tidak cukup untuk menjelajahi seluruh sudut Pamukkale. Kami tidak sempat menuju pemandian air panas karena langit sudah mulai gelap, itu tandanya tempat ini sudah mau tutup. Sayang sekali hanya beberapa jam disini karena besok pagi sudah harus berangkat menuju Konya.
Bus melaju meninggalkan Izmir menuju Kusadasi, tempat kami menginap malam ini. Pesona Izmir benar-benar menyihir, membuat saya tidak ingin cepat-cepat beranjak. Dulu, Izmir pernah direbut oleh Rusia sehingga budaya Eropa sangat kental disini. Namun sekarang sudah kembali lagi dan mutlak menjadi bagian dari Turki.
Malam harinya, kami tidak banyak menghabiskan waktu di hotel dan memilih untuk makan malam diluar. Wusshhh… Udara malam ini lebih dingin dibandingkan saat pertamakali saya menginjakan kaki di Istanbul tadi sore. Tour baru akan dimulai besok, tapi sepertinya Pak Abu dan keluarganya tidak ingin melewatkan begitu saja setiap detik di kota ini. Saya pun begitu, jadi saya ikut saja kemana mereka pergi hehe.
![]() |
| Tweet 23 Januari 2014 |
"Salah satu berkah menulis, menurut teman-teman sesama penulis adalah kemudahan untuk berjalan di bumi-Nya. Mengunjungi tempat-tempat yang tidak terbayangkan, bahkan ragu untuk diimpikan." -Asma Nadia
Awalnya menulis adalah salah satu cara yang saya lakukan untuk meluapkan emosi dan pikiran. Namun seiring berjalannya waktu, saya mendapatkan manfaat baik dari menulis. Pertama, menulis menuntut saya untuk terus membaca, ibarat menulis adalah sebuah kendaraan maka membaca adalah bahan bakarnya. Kedua, menulis mengenalkan saya pada banyak hal yang belum pernah ditemui sebelumnya. Ketiga, menulis mengantarkan saya bertemu dengan banyak orang yang tidak hanya sekedar menambah daftar teman, tapi juga saling bertukar ilmu dan pengalaman. Keempat, belum banyak kebaikan yang bisa saya lakukan, maka semoga menulis bisa memberikan kebermanfaatan bagi sesama.



