Ibrahim dan Wanita Bernama Asiye

Etihad Airways Economy Class

Episode perjalanan ini tidak selamanya menyimpan cerita bahagia, ada juga hal-hal yang membuat saya pasrah dan benar-benar hanya punya senjata bernama do’a.

Sore itu, bus menepi ke samping trotoar. Saatnya melanjutkan perjalanan seorang diri dan berpisah dari rombongan. Berat rasanya langkah saya turun dari bus yang selama dua minggu ini mengantarkan kami mengunjungi berbagai tempat di Turki, tapi bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Nadriye membantu menurunkan koper dan memberhentikan salah satu taksi yang berlalu lalang disekitaran Istanbul. Terlihat percakapan antara Nadriye dan supir taksi itu. Entah saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkin nego harga, memberitahu alamat tujuan, atau menginformasikan kalau penumpangnya ini tidak mengerti bahasa Turki.

“Saya sudah beritahu alamatnya, jangan khawatir. Sampai berjumpa lagi Tia, saya akan rindu sekali”, ujar Nadriye sambil mendekap erat tubuh saya.
“Saya juga akan rindu sekali. Rindu Nadriye dan Turki tentunya. Terimakasih untuk semuanya”, saya melepaskan dekapan Nadriye dan segera masuk kedalam taksi.
Taksi melaju perlahan, meninggalkan pusat kota Istanbul. Nadriye kembali menuju bus dan perlahan hilang dari pandangan. Saya anteng menatap keramaian Istanbul dari balik kaca jendela. Tidak ada percakapan apapun antara saya dan supir taksi itu karena keterbatasan bahasa. Tiba-tiba banyak kekhawatiran yang melintas dalam pikiran dan mencoba menenangkannya dengan membaca setiap papan reklame yang ada disepanjang jalan meski tidak mengerti apa artinya, setidaknya itu membantu mengalihkan ketegangan saya. Empat puluh menit berlalu.
“This is Hilton."
“Are you sure? It's Double Tree," saya bertanya kembali untuk meyakinkan. Karena ini adalah hotel tempat saya menginap ketika pertama kali menginjakan kaki di Istanbul.
“It's Double Tree By Hilton.”
“Hilton at Avcilar Street, right? Ok how much?”
“Yes don't worry, i'ts Hilton Avcilar. 80 TL.”
“80 TL?”, saya terkejut sambil bertanya kembali, karena sebelum naik taksi saya sempat bertanya pada Nadriye dan katanya hanya 50 Lira. Beruntung saya masih menyimpan beberapa lembar mata uang Lira.
“Yes, traffic jam”, begitu alasan supir taksinya. Semoga saja saya tidak sedang dikelabui karena bukan pribumi.
Tanpa ber-nego lagi saya membayar 80 Lira. Mahal sekali, padahal 30 Lira bisa untuk membeli oleh-oleh hehe. Saya bergegas masuk menuju resepsionis lalu mengisi beberapa form dan mengecek paspor. Seorang porter membawakan barang-barang dan mengantarkan saya menuju kamar di lantai 4.
“Welcome in Double Tree By Hilton, this is your room Mrs. Tia Yusnita. I will tell you about our facilities. You can use it to bla bla bla”, panjang lebar porter itu menjelaskan.
Saya menyalakan dan mengganti-ganti channel tv sambil merebahkan tubuh diatas tempat tidur. Tanpa sadar saya tertidur, masih lengkap dengan jaket, syal, dan kaos kaki. Tour hari terakhir yang cukup menguras energi hingga kelelahan. Ketika terbangun, langit sudah gelap. Saya segera membersihkan tubuh lalu sholat maghrib dan isya. Tiba waktu makan malam rasanya malas sekali untuk turun kebawah, tapi perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Baiklah hanya sebentar, daripada sakit di Negeri orang. Kalau saja tidak sendiri, malam ini saya ingin keluar hotel untuk menikmati malam terakhir di Istanbul. Karena alasan keamanan, saya lebih memilih untuk stay di hotel saja.

Ah rasanya baru kemarin saya menginjakan kaki di Turki. Dua minggu adalah waktu yang terlalu singkat untuk menikmati keindahan Negeri ini. Ini pagi terakhir di Istanbul, tepat pukul 10.00 seseorang akan menjemput untuk mengantarkan ke bandara. Seseorang siapa saya juga tidak tahu. Tidak tahu wajahnya, tidak tahu namanya. Entahlah, semoga ini bukan masalah baru. Pukul 10.15 petugas hotel memberitahu kalau sudah ada seseorang yang menunggu saya lobby.
“Assalamu’alaikum. Mrs. Tia from Endonezya?”
“Wa’alaikumussalaam. Yes, I’m Tia. Are you from travel who transfer me to airport?”
“Yes, my name is Ibrahim. Let me bring your bag.”
Saya segera memberikan kunci kamar pada petugas hotel dan mengikuti Ibrahim dari belakang lalu masuk ke dalam mobil. Oh ternyata ini orangnya. Lagi-lagi, saya anteng menatap wajah Istanbul dari balik kaca mobil. Masih benar-benar tidak percaya bisa berjalan sejauh ini. Sepanjang perjalanan Ibrahim melemparkan beberapa pertanyaan antara dua orang yang baru saja bertemu pada umumnya, saya menjawab dengan antusias. Sesekali saya meminta Ibrahim untuk mengulang pertanyaannya karena tidak mengerti. Beruntung Ibrahim berkenan mengulang dan berbicara lebih pelan.

Sampailah kami di Istanbul Attaturk Airport, hanya dua puluh menit saja untuk sampai disini. Ibrahim membantu membawakan barang-barang dan mengantar saya hingga tempat check-in maskapai. Dia menjelaskan kemana saya harus pergi setelah ini, meyakinkan kalau saya benar-benar sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
“Well, I only can take you here. Safe flight and nice to meet you.”
“Tesekkur ederim, Ibrahim. Nice to meet you too.”
Ibrahim tersenyum mendengar saya mengucapkan Bahasa Turki. Mungkin terdengar aneh atau bahkan sangat aneh. Dia beranjak pergi melambaikan tangannya dan meninggalkan saya sendiri. Menjauh dan hilang dari pandangan. Terimakasih Ibrahim, senang bertemu denganmu.


Saya menarik nafas panjang, hanya memohon diberi kesehatan selama perjalanan. Mengecek sekali lagi tiket dan paspor, antri bersama puluhan penumpang yang lain. Sejauh mata memandang saya tidak menemukan orang Indonesia, di depan saya sepasang suami istri dan satu orang anak kecil asal Turki, dibelakang saya rombongan anak-anak muda bermata sipit asal Korea. Banyak orang-orang berkulit putih dan hitam sliweran disini dan bahasa-bahasa aneh yang saya tidak mengerti. Berharap ada dua atau satu orang Indonesia disini, setidaknya ada teman mengobrol atau sekedar say hello. Dan take off masih sekitar dua jam lagi, setelah menukar dengan boarding pass, saya berjalan mencari ruang tunggu maskapai. Lurus, belok kanan, belok kiri, lurus lagi, belok kanan lagi, belok kiri lagi, lurus lagi, ah saya benar-benar tidak ingat rute nya. Jauh sekali, butuh waktu setengah jam untuk sampai di ruang tunggu maskapai. Bermodalkan simbol-simbol papan petunjuk alhamdulillah sampai juga.

Lima belas menit sebelum take off, saya masih duduk sendirian. Berharap duduk dengan wanita saja supaya lebih nyaman. Akhirnya seorang wanita bermata coklat dan berambut ikal duduk disamping saya. Nafasnya terdengar cepat. Matanya menatap kebawah seperti mencari sesuatu, membuka tas, merogoh saku jaket, terus berulang-ulang seperti itu.
“Apa Anda melihat paspor saya?” sepertinya dia melemparkan pertanyaan pada saya.
“Saya tidak melihatnya," aku membantu mencari kebawah kursi dan disekitar tempat duduk.
“Dimana ya, saya benar-benar lupa”, dia terlihat panik sambil fokus mencari paspornya.
“Jangan panik, coba cek di saku jaket atau tas.”
“Huhh, terimaksih. Ternyata ada disini," wanita itu menghela nafas panjang.
Saya tersenyum dan langsung menuju toilet untuk mengambil air wudhu, kemudian sholat di kursi. Wanita disamping saya terdiam sambil memperhatikan setiap gerakan yang saya lakukan. Mungkin dia bukan muslim. Karena sorang muslim tidak akan asing dengan sholat seperti ini. Usai sholat saya memilih untuk tidur dan mungkin akan bangun kalau pramugari membangunkan makan malam hehe.

Satu jam berlalu saya mengecek flight path dan perjalanan masih sekitar 2 jam lagi. Wanita disamping saya memasang earphone sambil menonton sebuah film. Menyadari saya sudah terbangun dia melepas earphone nya, memberikan menu makan malam yang diberikan pramugari ketika saya tertidur. Akhirnya kami memulai percakapan.

Wanita disamping saya bernama Asiye. Dia akan mengunjungi kakak perempuannya di Abu Dhabi dan berlibur disana selama satu minggu. Asiye juga bercerita kalau dirinya memiliki teman wanita yang memakai hijab seperti saya. Teman baik dan masih suka berkomunikasi sampai sekarang. Dia suka melihat wanita berhijab, menyenangkan katanya. Dengan bangga saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, meski pada awalnya dia menyangka saya berasal dari Malaysia. Ini bukan kali pertama disangka orang Malaysia, selama di Turki banyak yang menyangka kami adalah orang Malaysia. Ketika ditanya dari daerah mana, saya yakin dia tidak tahu Bandung, apalagi Cimahi hehe. Jadi saya bilang saja dari Jakarta, alasannya Jakarta dan Bali lebih dikenal oleh mereka, 
daripada harus panjang-panjang menjelaskan. Saya juga menjelaskan tujuan ke Abu Dhabi hanya untuk transit karena tujuan utama saya adalah pulang ke Indonesia.

Percakapan kami beralih pada menu makanan, dia meminta pendapat dan menanyakan menu apa yang saya pilih. Saya memilih arabic taste karena dari semua menu hanya itu yang mungkin cocok di lidah saya, dia akhirnya mengikuti. Usai makan malam, kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Saya mendengarkan murotal yang tersedia dan Asiye melanjutkan menonton film nya, hingga akhirnya kami tertidur.



Etihad's Menu
Pemberitahuan landing, kami otomatis memasang sabuk pengaman. Seluruh penumpang bersiap-siap, mengecek tas atau sekedar merapikan pakaian. Tapi.. lima menit, sepuluh menit pesawat belum juga landing. Saya mengecek flight path dan ternyata pesawat keluar jalur landing. Lima belas menit, masih berputar-putar diatas langit Abu Dhabi. Suasana menjadi sangat menegangkan. Saya dan Asiye saling menatap, Asiye menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja. Dua puluh menit, kami diminta untuk persiapan landing. Tapi.. lagi-lagi ketika saya mengecek flight path, pesawat keluar jalur landing dan masih berputar-putar diatas langit.

Tiba-tiba orang yang duduk dibelakang saya kesal karena landing molor hampir satu jam dari yang sudah dijadwalkan. Dia marah-marah sambil berteriak. Spontan dia menjadi pusat perhatian kami semua. Setelah tidak sengaja mendengar percakapannya dengan cabin crew, jarak transit orang itu hanya sekitar dua jam. Dan itu jelas membuat jadwalnya kacau untuk penerbangan selanjutnya. Kondisi di dalam pesawat semakin menegangkan.

Setelah keadaan semakin panik, cabin crew  meminta kami kembali memasang sabuk pengaman karena pesawat akan landing. Kali ini tidak molor lagi, roda pesawat sempurna menyentuh landasan Abu Dhabi International Airport. Ah lega rasanya, bagaimana kalau pesawat tidak mendarat dengan sempurna. Seorang diri di Negeri orang, saya sudah berpikir yang tidak-tidak. Pramugari mempersilahkan orang tadi untuk turun terlebih dahulu sambil memohon maaf atas keterlambatan landing. Ini artinya juga saya dan Asiye harus berpisah. Meski hanya bertemu beberapa jam, saya sangat suka dengan keramahan orang-orang Turki.

0 komentar:

Post a Comment