Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Samar-samar pengelihatanku dari kejauhan, dua orang melambaikan tangannya kurang lebih 10 meter dari tempatku berdiri saat itu. Tepat di jalan utama dekat gerbang sekolah, langkahnya  semakin cepat menghampiriku. Semakin dekat, aku semakin mengenali gerak tubuhnya, ternyata Rahma dan Eka sahabat dekatku. Hari ini hari sabtu, jadwal rutinku ke sekolah, setelah hampir satu bulan ini aku melaksanakan Prakerin (Praktek Kerja Industri). Sekolahku memang cukup berbeda dengan sekolah-sekolah kejuruan lain pada umumnya. Kami menimba ilmu selama 4 tahun disekolah ini, tiga tahun kegiatan ekfektif belajar mengajar, satu tahun lagi dipergunakan untuk pelaksanaan Prakerin (Praktek Kerja Industri), ujian, sidang, dan wisuda kelulusan.
Padahal baru satu minggu kami tidak bertatap muka, tapi aku sudah sangat rindu pada mereka. Biasanya saat masih sekolah kami selalu bertemu setiap hari, walaupun kami berbeda kelas dan jurusan. Kami dipertemukan lewat organisasi islam di sekolah. Organisasi yang mempertemukanku dengan orang-orang hebat, orang-orang yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan, orang-orang yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk agama kami tercinta, islam. Kupeluk erat tubuh mereka saat itu. Tanpa berbincang panjang, kami segera menuju mesjid yang terletak ditengah-tengah infrastruktur sekolah. Pelataran mesjid ini, tempat favoritku dengan sahabat-sahabat ketika sekolah. Entah itu sekedar bercerita tentang aktivitas yang kami lakukan seharian, mengerjakan tugas sekolah, tilawah, sampai membahas masalah-masalah yang terjadi di organisasi kami. Kini tempat ini ramai oleh adik-adik kami, tidak jauh berbeda aktivitasnya dengan kami dulu. Kami segera mengambil spot untuk saling meluapkan keluh kesah kami selama satu minggu ini. Berbagai tema diangkat dalam perbincangan kami saat itu. Setelah satu bulan kami melaksanakan Prakerin, banyak suka duka yang kami rasakan. Ya, ternyata dunia industri sangat jauh berbeda dengan dunia sekolah.
Perbincangan kami mengarah pada sahabat-sahabat kami yang kini berada diluar kota karena harus melaksanakan Prakerin disana. Kami sangat rindu pada mereka, sudah satu bulan ini kami tidak bertemu. Komunikasi kami hanya sebatas melalui sms dan akun social network. Aku sangat bersyukur bisa mengenal mereka, sahabat-sahabat terbaik yang sengaja Allah kirimkan untukku. Sahabat bukanlah yang selalu memberikan pujian. Tapi sahabat adalah yang selalu memberikan kritik, kritik kasih sayang. Bukan juga yang mengenalkan aku pada fashion, food, dan lifestyle masa kini. Tapi yang mengenalkan aku bagaimana cara mencintai Allah dan RasulNya. Aku bukan apa-apa tanpa mereka. Aku menjadi lebih baik karna kritik-kritik kasih sayang yang mereka lontarkan padaku. Ah, ana uhibbukum fillah ukhti.
Pernah sebelum aku melaksanakan Prakerin, aku berpikir akan sangat kehilangan mereka, sahabat-sahabat terbaikku. Berkurangnya intensitas bertemu, berkurangnya komunikasi, berkurangnya alarm-alarm kebaikan yang selalu mengingatkanku ketika aku mulai keluar dari koridorNya. Baru berpisah dalam jangka waktu yang ditentukan saja aku sudah merasa akan sangat merasa kehilangan mereka, apalagi kalau berpisah selama-lamanya? Aku tak bisa membayangkan. Terkadang pikiran akan sangat mempengaruhi alur kehidupan ini. Benar saja, satu bulan jauh dari sahabat-sahabat, aku merasa sumber semangatku berkurang. Seharusnya aku tidak boleh seperti itu, menempatkan Allah sebagai sumber semangat terbesar adalah hal yang harus diutamakan. Berkurangnya alarm-alarm dari sahabat, seharusnya tidak membuat ibadahku meredup. Ya, aku harus memperbaiki niat. Segala amal perbuatanku di dunia, aku sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya kelak, bukan sahabat-sahabatku.
Kerinduan yang lebih hebat lagi dirasakan ketika bulan ramadhan menjelang. Ramadhan tahun ini begitu berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Biasanya kami sibuk menjadi panitia pesantren kilat disekolah, acara-acara ramadhan, acara bakti sosial, dan rangkaian kegiatan ramadhan lainnya yang kami lalui bersama-sama. “Jika Ini Ramadhan Terakhirku”, tema sebuah acara yang pernah kami buat tahun lalu. Nampaknya masih menjadi bayang-bayang di benak kami akan segala kenangan ketika kami membuat acara itu. Bagiku itu bukan sekedar tema sebuah acara untuk menarik minat peserta, tapi itulah yang benar-benar aku rasakan bahkan sampai detik ini. Jika ini ramadhan terakhirku?
Alhamdulillah, Allah mengizinkan kami untuk berkumpul kembali di ramadhan tahun ini. Sahabat-sahabatku yang melaksanakan Prakerin di luar kota menyempatkan untuk pulang ke Bandung. Meskipun kami berkumpul bukan melalui acara-acara yang biasa kami buat disekolah, tapi melalui i’tikaf sepuluh malam terakhir yang sangat berkesan dan begitu mengingatkan kami pada kematian.
Saat itu hari ke 28 ramadhan, kami beri’tikaf di salah satu mesjid besar di Kota Bandung. Bangun disepertiga malam adalah kenikmatan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan keindahannya. Allah turun ke bumi untuk mengampuni dosa hambaNya, mengabulkan do’a-do’a setiap penduduk bumi, meski dengan susah payah untuk membuka mata dan melawan syetan melalui rasa lelah dan kantuk. Imam i’tikaf qiyamul lail di mesjid ini adalah seorang hafidz Al-Qur’an, penghafal kalam Allah. Subhanallah. Qiyamul lail kami malam ini membaca surat dari juz 26 hingga juz 28. Bukan waktu yang sebentar memang, berdiri dalam waktu berjam-jam. Tapi apakah surgaNya tak menggiurkan apabila hanya dibandingkan dengan sholat selama kurang lebih 4 jam? Kadang aku bodoh, masih hitung-hitungan dalam hal ibadah. Padahal pemberianNya untukku selama ini sudah sangat tidak terhitung.
Lantunan ayat-ayat cintaNya memecahkan kesunyian di malam-malam terakhir ramadhan. Bacaan Al-Qur’an yang fasih dan indah menemani rangkaian qiyamul lail kami. Sesekali imam menaikkan intonasi bacaannya, sesekali lagi melembutkan bacaannya. Seolah berinteraksi langsung dengan Rabb Pencipta Alam Semesta. Menyampaikan pesan yang tersirat dari setiap ayat-ayat Al-Qur’an. Andai saja aku sudah menjadi seorang hafidzah, pasti akan sangat mudah mengikuti bacaan imam. Ya, suatu saat nanti aku pun akan menjadi penghafal kalam Allah. Sampai pada surat yang menceritakan hari akhir, aku memang tidak hafal surat dan terjemah dari surat itu. Tapi sedikit-sedikit aku bisa memahami maksudnya, dari kata-kata yang sering aku dengar. Yang aku tangkap surat tersebut menceritakan bahwa pada hari kiamat manusia terbagi menjadi beberapa golongan. Golongan kanan, golongan kiri, dan golongan orang-orang yang paling dahulu beriman. Serta balasan bagi golongan-golongan tersebut. Akan termasuk kedalam golongan apa aku kelak? Ya Rabb, amalanku masih bisa terhitung jari. Sedangkan dosaku? Sudah tak terhitung jari.
Derai air mata membahana, menyelimuti seisi mesjid ini. Seluruh jamaah qiyamul lail tak henti meneteskan air mata, terisak-isak, tertampar oleh ayat-ayat dalam surat ini. Termasuk aku. Aku merasa begitu sangat dekat dengan kematian. Apa yang telah aku persiapkan untuk kematianku? Ya Rabb berilah aku kesempatan hidup lebih panjang lagi. Sungguh, aku tidak sanggup menyentuh api nerakaMu.
Sekitar pukul 03.30 kami selesai melaksanakan qiyamul lail. Seluruh jamaah meninggalkan ruang utama mesjid dan segera mencari makan untuk santap sahur. Untungnya, saat i’tikaf seperti ini banyak pedagang di sekitar mesjid yang menjual berbagai macam makanan. Selain itu panitia i’tikaf pun menyediakan makan sahur, yang harganya sangat terjangkau. Jadi tidak perlu khawatir kalau tidak membawa makanan dari rumah. Akhirnya kami memutuskan untuk sahur dengan nasi goreng. Dengan mata yang masih sembab, kami menyantap sahur bersama di pelataran mesjid.

****

Beberapa minggu setelah kepergian ramadhan, aku merasakan keimananku yang naik turun. Mungkin karna selepas ramadhan imanku tidak di charge melalui halaqoh, jarangnya aku menghadiri kajian-kajian, alarm-alarm sahabat-sahabat yang mulai berkurang karena mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, dan aku yang terlalu fokus dengan Prakerinku. Kehidupanku terasa lurus tak berliku, tak ada tanjakan tak ada turunan. Hampa, seperti selembar kertas yang melayang bebas tertiup angin dan tidak bisa mempertahankan dirinya.
Udara subuh menusuk sampai ke dalam tulangku, rasanya kepala ini berat, ogah-ogahan untuk bangun. Syetan sedang meninabobokanku dan membiarkan aku untuk terlambat melaksanakan sholat subuh. Aku paksakan sekuat tenaga untuk bangun. Aku tidak boleh kalah oleh syetan! Akhirnya aku berhasil bangun dengan kepala yang senut-senut dan suhu tubuh yang panas. Setelah sholat subuh aku tidak langsung bersiap-siap untuk Prakerin, aku kembali berbaring di kasur karena aku merasa ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhku. Sudah pukul 06.00 pagi, aku belum juga keluar dari kamar. Ibu masuk ke kamarku dan melihat anaknya masih berbaring di atas tempat tidur, karena biasanya jam segini aku sudah berangkat. Ikatan batin seorang ibu dengan anaknya, tanpa aku bilang aku tidak enak badan, ibu sudah mengerti. Diletakkan tangannya ke keningku. “Nanti sore kita ke dokter, sekarang sarapan dulu, nanti ibu belikan bubur ayam”, kata ibu kepadaku. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil bangun dan menyandarkan tubuhku. Ibu segera meninggalkan kamarku.
Sudah tiga hari ini aku istirahat di rumah. Segala aktivitasku terganggu termasuk ibadahku. Tilawahku menurun, sholat sunnahku berkurang, tapi Allah memang sayang padaku sehingga sholat wajib tidak akan pernah aku tinggalkan. Sungguh, aku merasa ada yang hilang dalam diriku. Kehilangan motivasi untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Mungkin ini yang disebut dengan futur. Sekarang aku sedang mengalaminya, penyakit yang menyerang ruhiyah dan keimanan seseorang. Aku tidak betah dengan kondisi diri yang seperti ini, tapi aku juga bingung apa yang harusku lakukan sekarang. Motivasi tidak datang dengan tiba-tiba, butuh perantara yang bisa menghadirkannya. Sampai esok harinya disaat aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa, disaat sudah bisa melaksanakan Prakerin kembali, penyakit futur itu terus menyertai kemanapun aku pergi. Aku butuh sahabat-sahabatku, halaqoh, kajian-kajian, semuanya. Entah, motivasi dari orangtua tidak  cukup memerangi kefuturanku.
Sore itu, ketika aku menuju perjalanan pulang dari tempat Prakerinku. Angkutan umum yang ku tumpangi berhenti di perempatan lampu lalu lintas. Seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun menaiki angkutan yang sedang ku tumpangi sambil membawa gitar kecilnya. Ia duduk tepat di pintu mobil dengan tubuh mengarah ke jalan. Lampu hijau, angkutan yang ku tumpangi segera melaju dengan kecepatan yang standar. Anak itu bernyanyi dengan alunan gitar yang dipetiknya. Tidak terlalu buruk, pikirku. Suara bising kendaraan saling sahut-sahutan dengan suara anak itu, jadi tidak terlalu terdengar jelas. Secara kasat mata tampilan anak itu memang tidak bersih dan tidak rapi, sudah terkontaminasi kehidupan di jalanan yang keras. Kasihan sekali anak itu.
Sudah separuh lagu ia nyanyikan, semakin kesini suaranya seperti orang teler. Ku perhatikan matanya seperti orang mengantuk. Tiba-tiba seluruh penumpang dikejutkan oleh anak itu. Ia terjatuh dari angkutan umum yang sedang melaju dengan kecepatan standar. Spontan, angkutan yang ku tumpangi berhenti. Kendaraan-kendaraan disekitar tempat kejadian ini juga ikut berhenti, ingin mengetahui apa yang terjadi. Dari balik kaca mobil, aku tak henti-hentinya beristighfar. Pengamen tadi tergeletak di jalan tak berdaya, dengan tubuh yang kejang-kejang dan busa yang keluar dari mulutnya. Astaghfirullah, anak itu overdosis. Gitar dan uang recehan yang tersimpan di gelas plastik berceceran di jalan. Orang-orang disekitar tempat kejadian hanya melongo dan tidak tahu harus melakukan apa. Karena tidak tahu harus menghubungi siapa. Laju kendaraan pun terhambat karena kejadian ini. Tak lama kemudian, anak itu diurus oleh polisi setempat dengan kondisi yang telah tinggal jasadnya. Innalillahi wa innaillaihi raaji’uun. Polisi segera menertibkan kembali laju kendaraan.
Aku tahu, Allah sangat sayang padaku. Allah tidak akan membiarkanku terus-menerus dalam kefuturan. Kejadian pengamen itu seolah menjadi teguran dariNya kalau aku harus bengkit. Menegurku kalau kematian bisa menghampiri kapan dan dimana saja, dalam kondisi dan cara apapun. Di setengah perjalanan pulang aku menjadi merenung sendiri. Bagaimana seandainya kalau nyawaku yang dicabut saat ini? Dalam kondisi keimananku yang tidak baik. Dalam kondisi kefuturanku. Naudzubillahimindaliik. Ingin sekali aku cepat-cepat sampai rumah, bersujud kepadaNya, meyesali kefuturanku beberapa minggu ini. Aku berusaha menahan air mata yang sudah tak sabar ingin jatuh ke bumi.
Bagaimana kalau malaikat izrail sekarang sedang bersiap-siap untuk mengambil nyawaku, orangtuaku, adikku, kakakku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang aku sayangi? Betapa entengnya aku terhadap mengingat kematian. Padahal aku tahu, segala yang ada di bumi ini adalah milikNya, termasuk ruh dan jasadku. Mau kapan pun Allah mengambilnya, itu hakNya. Malam ini aku ingin berlama-lama dengan Rabb Pencipta langit dan bumi. Memulai lagi semuanya dari nol. Menghadirkan kembali semangat beribadahku. Kejadian tadi sore benar-benar menamparku. Seolah menanamkan secara permanen di pikiranku, bahwa kematian itu dekat, sangat dekat. Aku mencoba mengingat kembali akan semua amalan yang sudah ku lakukan sampai detik ini.
Dalam keheningan malam aku meluapkan semua isi hatiku. Sunyi, sepi, sendiri.
“Aku berlindung kepadaMu dari godaan syetan yang terkutuk
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui
Ya Rabb, sesungguhnya jodoh dan kematian adalah rahasiaMu
Ya Ghafar, ampuni segala dosa-dosaku yang terlampau banyak ini
Ampuni aku yang masih enggan menjalankan perintahMu
Ampuni aku yang masih sering terlena dengan kehidupan dunia
Ampuni aku yang masih belum mampu menyempurnakan cintaku untukMu
Aku menyadari, aku hanya ciptaanMu yang tak kuasa apa-apa
Aku menyadari...
Sholatku belum selalu khusyu
Tilawahku belum cukup menghiasi hari-hariku
Sedekahku belum seperti sedekahnya para sahabat nabi
Dzikirku belum cukup membahasi lisanku
Do’aku belum membahana sampai ke penduduk langit
Hatiku belum mampu sebening mata air
Langkahku masih sering berbelok dari jalanMu
Pengelihatanku masih buram melihat cahayaMu
Pendengaranku seringkali masih menuruti bisikan-bisikan syetan
Sedang aku tahu, ajalku begitu dekat
Aku masih saja lalai terhadap perintahMu
Aku malu Ya Rabb, aku begitu tak tahu diri
Aku makhluk yang amat menginginkan perjumpaan denganMu dan RasulMu
Aku makhluk yang amat menginginkan jannahMu
Aku makhluk yang amat menginginkan mati dalam syahid dijalanMu
Tetapi, betapa amalanku belum mampu mengukur jarak jannahMu
Ampuni aku Ya Ghofar
Tetapkan aku di jalanMu
Mudahkanlah aku dalam menaati segala titahMu
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan do’a
Dibalik malamMu yang indah ini, kabulkanlah segala pintaku
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin”
Wajahku bersimbah air mata, aku tenang telah mencurahkan segalanya. Karna dalam salah satu firmanNya menyebutkan, “Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” Allah memiliki berjuta cara memberikan hidayah kepada setiap hambaNya.
Allah selalu memberikan apa yang dibutuhkan hambaNya, bukan apa yang diinginkan hambaNya. Kalaupun Allah memberikan apa yang kita butuhkan sekaligus apa yang kita inginkan, bukankah itu sebuah bonus dari Allah untuk kita? Ya, kadang aku tidak mensyukuri atas apa yang aku alami. Padahal Allah begitu baik padaku.
Aku harus lebih sering bermuhasabah. Lebih mendekatkan diri padaNya. Terus menanam benih-benih kebaikan, karena yang akan menuai hasilnya adalah aku sendiri. Alam kubur begitu gelap, kalau dari sekarang aku tak kumpulkan cahaya-cahaya untuk meneranginya, aku akan sengsara sendiri. Tak akan ada lagi orangtua, sahabat, dan orang-orang yang aku sayangi saat di alam kubur nanti. Amalku, Cahayaku. Ya, tak ada yang bisa membantu kecuali amal kebaikanku sendiri. Dan mengingat kematian merupakan salah satu cara untuk terus meningkatkan amal kebaikan. Akhirat adalah kehidupan kekal yang akan aku alami setelah kematian, aku harus camkan itu dalam benakku, sehingga tak ada lagi kata menunda-nunda kebaikan.
View Post

Bukan mencekam, hanya suasana hening dan isakan tangis yang menyelimuti tempat ini. Aku hanya bisa berdo’a berharap itu semua tidak terjadi pada orang yang kini tengah berbaring disebelahku. Tubuhnya seolah berbicara kesakitan, namun mata indahnya masih terpejam. Kutatap dari ujung kepala hingga ujung kaki, fisiknya terlihat sehat bahkan sangat sehat. Ku buka tirai berwarna coklat muda di sebelahku. Cuaca di luar kurang bersahabat. Awan yang menangisi bumi dengan langit yang pucat pasi menyelimutinya.
            Mataku tertuju lagi pada sekerumunan orang yang ada dihadapanku. Ruangan ini seakan menjadi saksi kesedihan mereka. Semua peralatan medis dilepas dari tubuh sang pasien. Suara tangis yang makin keras, bahkan ada yang tak sadarkan diri. Seorang perawat menutupkan selimut ke sekujur tubuh sang pasien. Ya, pasien itu telah meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya. Tanpa sadar air mataku telah menggenang, hatiku seakan merasakan kesedihan mereka. Walaupun sang pasien bukanlah sanak keluargaku. Aku hanya teringat lagi pada orang yang berbaring disebelahku. Pikiranku sudah kacau entah kemana, aku jadi semakin mengkhawatirkan keadaannya.
            Detik demi detik berjalan sangat menegangkan di ruangan ini. Hampir satu jam suasana belum juga berubah. Berselang menit setelah itu, sang pasien di pindahkan ke sebuah tempat tidur dan dibawa keluar ruangan. Tak ada lagi sanak keluarga pasien yang tersisa di ruangan ini. Sekarang hanya ada aku dan adikku. Sudah lima hari Dila terbaring di kasur rumah sakit. Usianya bukanlah anak kecil lagi, tapi disaat seperti ini aku selalu menganggap Dila seperti adik kecilku, anak kecilnya ayah dan ibu.
            Ku baca huruf demi huruf, kata demi kata ayat-ayat cintaNya. Suasana tegang tadi kini mulai mencair. Dila terbangun dari tidurnya, aku spontan membantu Dila untuk duduk. Dila tidak mau karena sakit lantas meninggalkan kewajibannya begitu saja. Aku membantunya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sebentar lagi masuk waktu ashar. Aku masih punya wudhu, aku langsung menggelarkan sejadah di samping tempat tidur Dila. Dila sholat di atas tempat tidurnya.
            Angin yang meniup tirai menemani kami sholat ashar saat ini. Bermesraan dengan Rabb Pencipta Alam Semesta, itu kata-kata yang pernah ibu katakan kepada kami. Saat sholat kita berhadapan langsung dengan Dzat pemilik tubuh ini, berinteraksi langsung lewat bacaan-bacaan sholat yang dirangkai dengan indahnya. Lewat gerakan-gerakan sholat yang pada fitrahnya membuat tubuh ini sehat. Ucapan salam mengakhiri sholat kami. Beribu ampunan dan harapan ku panjatkan dalam setiap do’aku. Begitupun dengan Dila, matanya terpejam, kepalanya tertunduk ke bawah. Berharap semua ampunan dan harapan dikabulkan oleh-Nya.
            Tak terasa, bulan penuh ampunan, bulan dimana nafas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, hari-harinya adalah hari yang utama, detik-detiknya adalah detik yang utama, bulan diturunkannya Al-Qur’an petunjuk hidup manusia, bulan yang salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan penuh berkah, bulan terbaik diantara bulan-bulan lainnya, bulan dimana pintu syurga dibuka dan pintu neraka ditutup rapat, bulan saat syetan dibelenggu. Ramadhan. Ya, genap satu bulan lagi  bertemu  dengan Ramadhan. Wa balighna ramadhan, wa balighna ramadhan, wa balighna ramadhan. Itu do’a yang selalu ku pinta setiap malam, aku ingin sampai pada Ramadhan-Mu.

****

Hari ini Dila sudah boleh pulang dari rumah sakit, setelah satu minggu lebih Dila terbaring karena radang hatinya yang kambuh lagi. “Kamarku, aku rindu sekali”, teriak Dila sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kamar ini memang tempat yang paling nyaman untukku dan juga Dila. Rumah kami memang sederhana. Tidak ada banyak ruangan, tetapi cukup untuk menampung aku, Dila, ayah, ibu, dan Haikal adik laki-laki kecilku yang bungsu. Dila mengambil dua lembar kertas dan memberikan satu lembarnya kepadaku. “Ayo Kak Asma, tulis terget Ramadhannya disini, mau ku tempel di dinding”, pintanya dengan semangat. Ini adalah hal yang selalu aku dan Dila lakukan setiap menjelang Ramadahan, seperti sudah menjadi tradisi. Biasanya aku yang mengajak Dila, tapi kali ini Dila yang mengajakku. Aku senang sekali. Adik kecilku kini sudah menjadi dewasa, menjadi remaja kelas tiga SMA yang sangat cinta pada agama-Nya, muslimah yang cinta akan Rabb dan Rasul-Nya. Kadang aku malu pada Dila, semangatku tak sebesar dirinya. Ibadahku tak semaksimal dirinya. Aku bersyukur memiliki adik yang selalu mengingatkanku di jalan-Nya, walaupun usia kami berbeda tujuh tahun, cukup jauh.
“Ga sabar pingin cepet-cepet ke sekolah. Agenda Ramadhan udah menanti. Acara bakti sosial, pesantren kilat dan acara-acara lainnya”, dengan semangat Dila mengungkapkanya di depan aku, ibu dan ayah.
“Ayah sama ibu ga ngizinin kamu cape-cape jadi panitia dulu ya”, ayah membalas yang tentunya bukan jawaban yang diharpakan Dila.
“Ayah sama ibu ga asyik nih. Sebentar lagi Dila lulus dan bukan pengurus lagi. Lagian ini kan dalam rangka dakwah juga. Buat dakwah kok dilarang sih. Dila udah sehat kok yah, bu”, pinta Dila merayu.
Akhirnya ayah dan ibu luluh dengan rayuan Dila, tentunya dengan nasihat-nasihat panjang yang hampir Dila dengar setiap harinya. Terutama tentang kesehatannya, Dila selalu bandel untuk minum obat dan menjaga kesehatannya sendiri.
Itulah Dila sedikit keras kepala. Tapi menurutku itu sangat wajar. Aku juga pernah merasakannya saat dulu aku masih SMA. Semangatku untuk berdakwah di sekolah berada di puncaknya. Sampai saat ini pun seperti itu. Semangat dakwahku juga tidak akan pernah redup sampai ruh terpisah dari jasadku.


***

Mesjid sangat penuh dengan orang-orang yang merindukan Ramadhan. Karna ini hari pertama tarawih pasti sangat penuh. Sejadah sampai tergelar di teras-teras mesjid. Awalnya saja seperti ini, satu minggu terakhir Ramadhan pasti hanya beberapa shaf saja. Untungnya aku, Dila, dan ibu kebagian di dalam mesjid karena kami datang lebih awal. Suasana seperti ini yang sangat aku rindukan. Tarawih, sahur, buka puasa, tadarus, dan kegiatan lainnya selama Ramadhan.
Dua minggu sudah melalui Ramadhan, rasanya tak ingin meninggalkan bulan ini. Kalau Ramadhan seperti ini anak-anak ayah dan ibu jarang sekali ada di rumah, khususnya aku dan Dila. Kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Menjadi panitia kegiatan ini dan itu, mengisi sebuah acara, buka puasa bersama, menghadiri kajian-kajian, atau sekedar berdiam di mesjid untuk meningkatkan ibadah.
Aku perhatikan Dila sibuk sekali dengan laptop, buku, Al-Qur’an, dan kertas-kertas yang berserakan begitu saja di atas tempat tidur. Sesekali dia buka Al-Qur’an, kemudian matanya berpindah ke buku, membolak-balikkan kertas-kertas, dan mengetik di laptop. Aku memang sangat dekat dengan Dila. Apapun yang dia alami pasti diceritakan kepadaku. Rupanya Dila sedang sibuk untuk acara besok, dia ditunjuk menjadi pemateri di acara kajian muslimah disekolahnya. Ya, hal itu juga selalu kulakukan saat aku menjadi seorang pembicara di acara ta’lim atau seminar. Supaya apa yang kita sampaikan tidak hanya sekedar bicara, tetapi ilmu dan maksudnya dapat diterima dengan baik oleh peserta. Menyampaikan ilmu yang benar dan sesuai ajaran agama. Sesekali aku membantu Dila menyiapkan materi dan berdiskusi bagaimana menjadi seorang pembicara yang baik.
“Alhamdulillah selesai juga, semoga besok Dila ga gugup ya Kak. Nanti Dila bakal jadi pembicara yang lebih hebat dari Kak Asma. Hehehe”, sambil membereskan laptop, buku, dan kertas-kertas yang berserakan.
“Aamiin”, balasku sambil tersenyum.
Sudah pukul setengah 10 malam. Dila memaksaku untuk muroja’ah hafalan Al-Qur’annya. Biasanya kegiatan rutin ini dilakukan usai sholat subuh. Dila menyetorkan hafalan Al-Qur’annya kepadaku, begitupun sebaliknya.
“Innallaaha ‘aliimun khabiir”, ayat terakhir di surat Luqman ini mengakhiri hafalan Dila. Dila sangat ingin sekali menyusul hafalanku, terkadang dia suka marah-marah padaku karna belum bisa menyusul juga. Tapi, aku bangga sekali pada adikku ini. Saat aku kelas tiga SMA hafalanku belum sebanyak ini. Sekarang giliranku untuk menyetorkan hafalanku. Bismillah.
Hari ini Dila susah sekali dibangunkan sahur. Sudah aku panggil berkali-kali tidak bangun juga. “Dila... Dila...”, kesekian kalinya aku membangunkan Dila sambil menggerakkan tubuhnya. Pikiranku mulai melayang entah kemana. Apa yang terjadi pada Dila? Ya Allah kenapa adikku ini? Aku langsung memanggil ibu dan ayah. Sekarang ibu yang membangunkan, berharap Dila bangun kali ini. Tapi entahlah tubuhnya tak mau bergerak juga. Aku lihat raut kepanikan di wajah ibu dan ayah. Ayah langsung membawa Dila ke dalam mobil dan kami semua ikut ke rumah sakit. Makanan sahur kami biarkan tertata rapi begitu saja di atas meja makan. Sepanjang jalan air mataku tak hentinya mengalir, begitupun dengan ibu. Aku tau, ayah menyetir mobil dengan hati yang panik. Sedangkan Haikal hanya kebingungan melihat kami semua. Dila langsung dibawa menuju UGD. Kami semua menunggu diluar. Adzan subuh berkumandang, tapi dokter belum juga keluar ruangan. Kami memutuskan untuk sholat subuh dahulu di rumah sakit sambil menunggu bergiliran di depan UGD.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, kesembuhan yang tidak menyisakan sakitnya. Ya Rabb, hamba memohon kesembuhan atas Dila, adik yang sangat hamba sayangi. Seorang anak yang begitu mencintai-Mu, agama-Mu, dan Rasul-Mu. Berilah ia kekuatan dalam melawan sakitnya, berilah ia keikhlasan dalam menghadapai sakitnya, berilah ia ampunan atas dosa-dosanya. Ya Rahim, Engkau Maha Penyayang kepada setiap hamba-Mu. Biarkanlah ia mendapatkan kasih sayang-Mu, sehingga ia masih dapat bertahan untuk membela agama-Mu. Ya Aziz, Engkau Maha Perkasa, tiada kuasa selain Engkau, tiada daya dan upaya melainkan keridhoan-Mu. Hamba yakin, kehendak-Mu adalah yang terbaik, takdir-Mu adalah cara-Mu untuk membuat kami senantiasa lebih dekat dengan-Mu. Hamba yang hina ini memohon, bersimpuh di bulan yang mulia ini. Kabulkanlah do’a hamba Ya Rabb. Aamiin.
Aku segera menuju UGD lagi, ibu dan ayah sudah masuk ke dalam ruangan. Langkahku seakan berat, detak jantungku memompa dengan kencangnya, nafasku terisak-isak, tubuhku lemas, aku tak sanggup menuju ruangan itu. Aku hanya berharap saat aku memasuki ruangan, kabar bahagia yang ku dapatkan. Tetapi, do’aku belum dikabul kali ini. Tidak ada yang mengetahui atas rencana-Nya. Kelahiran, kematian dan jodoh adalah rahasia-Nya. Tangis memecahkan kesunyian subuh di ruangan ini. Ibu tak sadarkan diri. Ayah masih menatapi tubuh seorang anak yang kini tinggal jasadnya yang terbaring kaku. Haikal pun ikut menangis. Aku tak bisa berbuat apapun. Kupeluk tubuh adikku dan tak henti-hentinya menangis sambil mendo’akannya. Kenapa secepat ini? Rupanya tadi malam adalah malam terakhir aku mendengar suara indah Dila melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Malam terakhir kebersamaan aku dan Dila. Aku semakin sedih saat ingat bahwa hari ini Dila akan menjadi pemateri acara kajian muslimah disekolahnya.
Hari kemenangan pun tiba tanpa kehadiran Dila. Adila Nur Fadhiyah, tinggal namanya yang kini tertera di atas batu nisan. Penyakit radang hatinya tak mampu ia tahan lagi. Ya, Dila terlalu lelah dengan aktivitasnya dan lupa menjaga tubuhnya sendiri. Beberapa minggu setelah kepergian Dila, aku membereskan semua barang-barang yang masih tertata rapi di kamar kami berdua. Target Ramadhan kami waktu itu, masih tertempel di dinding dengan coretan-coretan tanda checklist pertanda target itu sudah kami penuhi. Sayangnya kertas Dila tak sepenuh kertasku, ia terlanjur pergi dan tak bisa memenuhi coretan di atas kertas ini.
            Aku mulai ikhlas dengan kepergian Dila. Tak baik menangisinya berlarut-larut. Aku sadar, semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya, termasuk Dila. Mau kapanpun dan dimanapun Allah mengambilnya, itu hak-Nya. Tugasku sekarang adalah mendo’akan Dila. Dila wanita yang sholihah. Wanita dengan harapan-harapan luar biasa saat aku tak sengaja membaca tulisan tangannya di sebuah buku kecil berwarna biru. Aku berharap kelak aku akan bertemu dengan Dila kembali di syurga-Nya. Berkumpul dengan kekasih-kekasih Allah di syurga-Nya.

View Post

Cahaya lampu masih menerangi salah satu ruangan disebuah rumah sederhana ini. Sedang ruangan yang lainnya sudah tampak gelap karena penghuninya telah tertidur. Di ruangan yang tidak terlalu besar ini aku dan Zhafira tengah membongkar sebuah kardus yang berukuran cukup besar. Isinya adalah kiriman pakaian yang masih baru. Baju, rok, dan kerudung untuk berbagai usia. Semua pakaian ini bukan untuk dijual tetapi ini adalah kiriman dari seorang dermawan untuk anak-anak yang tinggal di rumah singgah.
Aku dan Zhafira kini baru saja lulus kuliah dari salah satu universitas islam negeri di Kota Bandung. Ini bukan rumah kami berdua, melainkan sebuah rumah singgah yang kami rintis setelah kami lulus SMA. Kami terlahir dari keluarga yang cukup mampu, walaupun begitu, semua kebutuhan di rumah singgah ini bukan dari orangtua kami. Kami mau menerima pemberian dari orangtua kami, asalkan statusnya sebagai donator rumah singgah, yang harus memenuhi persyaratan donator yang telah kami buat. Kami juga sudah memiliki beberapa donator tetap yang berasal dari perorangan atau instansi sekitar. Donasi dari donator kami gunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah singgah dan biaya sekolah anak-anak.
Rumah singgah yang kami beri nama Lathifah ini berarti wanita yang lembut dan baik. Karena penghuni rumah singgah ini seluruhnya adalah wanita. Dari mulai anak-anak sampai remaja. Ya, rumah singgah ini tidak terlalu besar bahkan baru tercatat secara legal sejak enam bulan yang lalu. Kurang lebih usia rumah singgah baru 2 tahun lebih 3 bulan. Kini dihuni oleh 15 orang anak wanita. Yang paling besar ada dua anak yang sekarang duduk di bangku kelas dua SMA. Enam orang duduk di bangku SMP, empat orang duduk di bangku SD dan tiga orang sisanya belum sekolah. Aku yang memimpin rumah singgah saat ini, karena  dari awal aku membangun rumah singgah ini sendirian. Saat itu masih ada lima orang anak yang aku bina, statusnya pun bukan rumah singgah seperti sekarang. Dulu tempatnya masih di rumah orangtuaku.
Rumah singgah ini mempunyai lima orang pengurus, dua diantaranya adalah Aku dan Zhafira. Aku sebagai pemimpin sekaligus yang mengajarkan mengaji Al-Qur’an dan materi TPA pada umumnya. Zhafira sebagai orang yang mengelola administrasi dan mengajarkan bahasa arab. Sedangkan tiga orang lainnya adalah Mba Yanti yang berusia 30 tahun dan sudah memiliki satu orang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ada juga Mba Dina yang datang dari keluarga sederhana dan masih seumuran denganku. Mba Yanti dan Mba Dina adalah orang yang setia mengurus anak-anak selama di rumah singgah. Satu lagi adalah Pak Asep, beliau tidak menginap disini karena beliau sudah memiliki keluarga. Pak Asep suka bantu-bantu disini, kadang kalau kami mau berpergian Pak Asep yang mengendarai mobil. Aku dan Fira datang ke rumah singgah setelah pulang kerja, hari sabtu dan ahad kami baru bisa seharian ada disini.
“Udah jam sebelas lebih Aisyah. Besok kita lanjut lagi misahin baju buat anak-anaknya. Besok kan hari ahad jadi ga ke kantor”. Aku menengok ke arah jam dinding yang dipasang sebelah kanan tepat dari posisiku saat itu. “Tapi tanggung Fir”, jawabku yang saat itu masih memisahkan baju untuk anak-anak. “Nanti kesiangan bangun qiyamul lail loh. Kalo kita kesiangan ga ada yang bangunin anak-anak buat sholat malam”, Fira mengajakku untuk segera tidur. “Lima menit lagi ya Fir, kamu kalo mau tidur duluan aja, nanti aku nyusul”, jawabku lagi. “Ya udah aku duluan tidur ya. Awas jangan terlalu malem”. Fira meninggalkanku sendirian saat itu, lima belas menit kemudian aku pun segera tidur.

****
        
Roti isi coklat, lontong isi sayur, dan susu putih menjadi sarapan kami pagi ini. Kami berkumpul di ruang tengah di atas karpet coklat yang cukup besar. Kami memang tidak mempunyai meja makan besar yang cukup untuk menampung seluruh penghuni rumah singgah. Setiap kali makan ya lesehan seperti ini, tapi ini samasekali tidak mengurangi hangatnya sebuah keluarga bersama anak-anak yang sholehah.
Segelas susu tumpah karena tidak sengaja tertendang oleh kaki Kania yang saat itu sedang bermain dengan Ami dan Salwa. Tiga orang anak kecil yang belum sekolah ini memang selalu meramaikan suasana.
“Hah Kania, tuh kan tumpah, kena baju aku jadinya, mangkanya diem jangan lari-lari”, kata Icha, salah satu penghuni rumah singgah kelas 4 SD ini memang cukup sensitif orangnya. “Kania, Ami, Salwa, sini sayang nanti gelas yang lainnya ketendang juga. Sini Kak Aisyah punya permen nih”, aku mencoba merayu mereka. Mereka mendekatiku dan aku ajak mereka ke teras depan rumah. Suara motor berhenti di depan rumah singgah, aku mengenali motornya, itu motor Handika dan Umam teman kampusku waktu itu, karena mereka adalah orang yang lumayan sering datang kesini untuk berbagi dengan anak-anak. Apapun mereka bawa dari mulai makanan, pakaian, buku, atau mainan. Ami dan Salwa sangat mengenali Dika dan Umam. Segera mereka berlari menghampiri mereka berdua. “Adik Kak Aisyah yang sholehah, sini dulu, Kak Dika sama Kak Umam nya baru dateng, motornya mau di masukin ke halaman dulu”, teriakku saat itu. Mereka tidak memperdulikan suaraku. Setelah menyimpan motornya, Dika dan Umam langsung menggendong Ami dan Salwa.
Aku langsung menyuruh mereka masuk ke dalam, beberapa anak yang memang dekat dengan Dika dan Umam langsung menuju ruang tamu. “Kakak sama Kak Dika bawa buku-buku cerita nih”, sambil mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. “Pasti bukunya buat anak-anak aja. Mana yang katanya mau beliin Vika novel?”, celetuk Vika saat itu. Vika dan Farah adalah anak kelas dua SMA, anak yang paling besar diantara anak-anak lain di rumah singgah. Tapi sifat Vika sangat jauh berbeda dengan Farah, padahal usianya sama. Farah jauh lebih dewasa dan sangat memahami nilai-nilai agama. Sedangkan Vika masih sedikit kekanak-kanakan dan ceplas ceplos bicaranya. Vika juga sangat mengagumi Umam. “Hush Vika, ga boleh gitu, ga malu sama ade-adenya”, sahut Farah. “Ga apa-apa Farah, kita bawa kok novel pesenan Vika”, Umam mencoba mencairkan suasana. “Tuh kan Rah, aku dibeliin novelnya”, “Dasar Vika, Vika”, Farah langsung menuju ruang tengah dan melanjutkan membaca majalah yang tadi sedang ia baca.
Anak-anak sibuk memilih buku-buku yang dibawa Dika dan Umam, sebagian lagi di ruang tengah dan sibuk membantu Mba Yanti dan Mba Dina dibelakang untuk memasak dan mencuci. Fira setelah sholat subuh tadi pulang ke rumah dulu, katanya mau ngambil baju dan perlengkapan lain untuk ke kantor besok. Tidak enak kalau hanya ada anak-anak kecil, Dika, Umam dan aku wanita sendirian yang sudah dewasa disini, tidak ditemani muhrim yang lain. “Fira kemana Syah?”, tanya Dika padaku. Ada perasaan yang berbeda padaku saat Dika menanyakan Fira. “Tadi subuh pulang dulu ke rumahnya, katanya mau ngambil baju dan perlengkapan lain untuk ke kantor besok”, dengan tegas dan sambil tidak menatap wajah Dika aku menjawabnya. Kami mengenal adanya hijab atau batasan antara wanita dan laki-laki dalam agama kami. Saat aku berbicara tidak menatap pun mereka berdua sudah terbiasa, karena mereka juga mengerti. Saat di kampus, antara wanita dan laki-laki sangat terjaga pergaulannya, karena itu yang agama kami ajarkan kepada kami. “Kira-kira balik lagi kesini jam berapa ya Syah? Saya mau mengambil buku yang dipinjam Fira waktu itu”, “Kurang tau juga, coba di sms saja. Hemm, Dika Umam, saya tinggal dulu”, kurang enak kalau aku berlama-lama disitu. Sambil menuju dapur aku masih tanda tanya besar dengan perasaanku. Ada sesuatu yang berbeda saat aku berbicara dengan Dika. Atau mungkin aku, ya sudah lah tidak perlu dipikirkan juga. Istighfar Aisyah, istighfar.
Aku membawakan dua gelas teh manis untuk Dika dan Umam. Pukul 11 siang Fira kembali ke rumah singgah. “Assalamu’alaikum. Ada tamu rupanya, sudah lama menunggu ya?”. Ya, sepertinya Fira sudah buat janji dengan Dika, karena Fira berbicara seperti itu. Umam terlihat asyik bermain dengan Ami dan Salwa. Fira dan Dika kini asyik berdiskusi, tidak tau membicaraka apa. Saat di kampus mereka satu kelas, belum lagi orangtua mereka yang sudah bersahabat sejak lama. Jadi saat mereka masih kecil, mereka sudah sering bertemu. Fira sering cerita tentang masa lalunya. Perasaanku semakin tidak karuan, aku terus beristighfar karena aku bingung apa yang terjadi pada hatiku saat ini. Aku meninggalkan mereka dan menuju ruang tengah. Aku duduk disebuah kursi dan mengambil buku yang tersusun dilemari buku. Entah buku apa yang aku ambil, aku hanya membuka halaman demi halaman tanpa fokus membacanya. Sedangkan pikiranku memikirkan sesuatu. Apa mungkin aku menyukai Dika? Ah, itu ga mungkin, sebelum-sebelumnya aku biasa saja. Dika pasti menyukai Fira dan sebaliknya, pikirku. Ya, mereka sudah bersahabat sejak lama sedangkan aku mengenal Dika baru sejak di kampus dan di organisasi kampus.
            Sekarang usiaku 23 tahun, walaupun masih terbilang muda kadang orangtuaku menanyakan kapan aku mau menggenapkan setengah dienku. Mereka bilang aku terlalu sibuk dengan berdakwah, mengurusi anak-anak dan rumah singgah, sehingga mereka merasa aku tidak pernah memikirkan tentang sesuatu yang sakral ini. Bukannya aku tidak memikirkan, tapi aku menyerahkan urusan itu pada Allah. Kalau sudah tiba waktunya, pasti nanti ada seseorang yang datang yang Allah kirimkan untukku.
Ya, tapi sekarang aku mulai berpikir juga tentang ini. Setengah tahun lagi usiaku genap 24 tahun. Kuliahku sudah selesai. Menjadi salah satu dari 20 besar mahasiswa-mahasiswi berprestasi terbaik sudah aku raih. Walaupun baru bekerja satu tahun, gajiku sudah cukup untuk seorang wanita. Mulai sekarang aku hanya berusaha memperbaiki diri untuk calon imamku nanti, entah kapan. Aku mau jadi wanita yang sholehah seperti Fatimah Az-Zahra, Siti Aisyah dan Siti Khadijah.

****
Usai sholat isya dan tilawah, aku jadi teringat Fira. Sudah tiga minggu ini Fira jarang sekali ke rumah singgah, aku merasa kesepian. Sms pun jarang di balas. Terakhir kesini hari sabtu lalu, itu pun hanya sebentar lalu pergi lagi. Mungkin Fira sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku mengambil handphone dan segera aku sampaikan rasa rinduku lewat sms. “Assalamu’alaikum. Ukhti cantik, lagi sibuk ya? Aku kangeeeeeen banget sama kamu Fir, apalagi sama bawelnya kamu. Anak-anak juga pada kangen sama kamu tuh, pingin belajar bahasa arab sama Kak Fira katanya. Ana uhibbu kifillah ukhti”, semoga sms ku kali ini dibalas sama Fira. Sepuluh menit kemudian handphoneku bordering, sms dari Fira. “Wa’alaikumsalam ukhti sholehah. Apalagi aku, kangennya banget banget sama kamu Syah. Udah tiga minggu ya aku menghilang, hehe. Afwan ya, ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Mungkin minggu depan aku baru bisa ke rumah singgah dan menyampaikan kabar bahagia. Salam sama anak-anak ya, Mba Dina, Mba Yanti dan Pak Asep juga. Uhibbu kifillah”, sms balasan dari Fira cukup mengobati kerinduanku. Aku jadi penasaran kabar bahagia apa yang mau Fira sampaikan. Rasanya ingin cepat-cepat minggu depan.
            Malam ini aku cukup santai dan ingin membuka account facebook ku, sudah lama tidak di cek. Aku hanya buka twitter lewat handphone. Aku menyalakan laptop di ruang tengah, sambil menemani anak-anak belajar. “Mba Aisyah, mau dibuatkan teh manis?”, Mba Yanti menawarkan. “Hemmm, boleh Mba. Maaf ya jadi ngerepotin. Ditawarin yang enak sih, jadi ga mungkin ditolak”, jawabku sambil tersenyum. “Ga apa-apa sekalian, sebentar ya Mba”.
            Seberapa lama kah aku tidak membuka account facebook ku? Terakhir aku update tiga minggu yang lalu, belum terlalu lama. Tapi banyak sekali permintaan teman dan pemberitahuan. Aku konfirmasi teman-teman yang aku kenal dan aku lihat semua pemberitahuan. Aku teralih pada sebuah catatan yang melintas di beranda facebook ku. Catatan Handika El Shirazy, judulnya hanya sebuah karakter tanda tanya. Tidak bermaksud apa-apa, aku pun membaca catatan itu. Ada dua orang yang ditandai di catatan itu, Umam dan Fira. Fira dan Dika? Aku tidak bisa berpikir dewasa saat mengetahui isi catatan itu. Hatiku tertunduk lesu, pikiranku seperti benang kusut yang tidak bisa diluruskan kembali, ternyata benar aku memang mencintai Dika. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Seharusnya aku sadar dari awal, Dika dan Fira itu sudah lama bersahabat.
            Kalimat demi kalimat aku baca kembali, “Bismillaahirrahmaanirrahiim. Maha Besar Allah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan akal dan pikiran. Maha Penyayang Allah yang menganugerahkan perasaan cinta kepada setiap hati manusia. Hidup adalah sebuah skenario yang telah Allah tuliskan. Dari mulai berperang melawan sel-sel lain di dalam rahim seorang ibu, memasuki usia anak-anak, remaja dan kini dewasa. Sekolah, kuliah, bekerja, semua sudah dilewati dengan izinNya. Skenario ini akan kurang lengkap saat belum melewati salah satu sunnah rasulNya. Usia bukanlah sebuah penghalang saat kita akan melewati sunnah rasul ini, yang terpenting semua syarat mutlak telah terpenuhi. Mencari tulang rusuk yang tepat bukanlah hal yang mudah. Perlu perencanaan matang. Karena ini adalah sebuah tanggung jawab besar. Bisakah seorang anak adam membawa anak hawa beserta jundi-jundinya ke Syurga yang mulia, dan sebaliknya? Mungkin saat ini, Allah tengah menuntunku menuju ke jalan ini. Allah telah memberiku sebuah kunci untuk membuka sebuah lemari kaca yang berisi berlian yang tak ternilai harganya. Apakah berlian itu mau jika tanganku yang mengambilnya?”
            Tidak salah lagi catatan itu pasti untuk Fira, sebentar lagi Dika akan menggenapkan setengah diennya bersama Fira. Ya, aku seharusnya mendukung dan berpikir dewasa. Dika orang yang sholeh dan bertanggung jawab, pantas mendapatkan seorang Zhafira yang pintar dan sholehah. Aku jadi teringat kabar bahagia yang akan Fira sampaikan, mungkin tentang ini. Dan hampir satu bulan Fira menghilang ternyata untuk mempersiapkan ini semua. Aku tidak menyadari, air mata jatuh ke pipiku dengan derasnya. Icha yang sepertinya daritadi memperhatikanku sekarang mendekat, “Kak Aisyah?”, tangan kecilnya mengusap air mataku. “Kak Aisyah kenapa?”, tanyanya heran. “Ga apa-apa sayang, Kak Aisyah lagi baca cerita di internet, ceritanya sedih banget, jadi Kak Aisyah nangis deh. Kak Aisyah ke kamar duluan ya”, aku berbohong pada Icha, anak kecil yang tidak bersalah. Vika dan Farah yang saat itu memperhatikanku juga, sepertinya mengetahui kalau aku tidak jujur pada Icha. Mereka sudah tumbuh dewasa, mereka pasti mengerti aku bukan sedang menangisi sebuah cerita.

****
           
            Entah mengapa, hari-hariku saat ini terasa tidak bersemangat. Mengerjakan apapun aku tidak pernah bisa fokus. Aku masih memikirkan tentang Dika dan Fira. Dika adalah orang yang pertama kali aku cintai karenaNya. Aku sangat tulus mencintainya. Seorang pun tidak tahu tentang perasaanku ini, kecuali Allah dan aku sendiri. Saat di kampus pernah melintas perasaan ini pada Dika, tapi karena banyak hal yang harus aku urusi saat itu, aku tidak terlalu memperdulikan perasaanku dan akhirnya terkikis begitu saja. Awalnya aku mengagumi Dika sebagai sosok yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sekarang, mengapa perasaan kagum itu terus tumbuh menjadi sebuah perasaan ingin memiliki? Aku wanita bodoh yang mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah mungkin bisa terjadi.
            Sepulang dari kantor aku merasa sangat lelah dan tubuhku sedikit panas, aku langsung menuju kamar tanpa ku sapa satu per satu anak-anak yang ada di rumah singgah. Ternyata sudah ada Fira di kamar, ia menungguku sejak tadi sore. “Aisyah”, wajahnya berbinar bahagia ia langsung memelukku dengan eratnya. “Aku kangen banget sama kamu, hampir satu bulan kita ga ketemu”. Aku pun memeluknya dengan erat, “Sama Fir, aku juga kangen banget sama kamu”. Kami pun duduk di atas tempat tidur dan berbincang banyak, seperti sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal hanya satu bulan saja kami tidak bertatap muka. Akhirnya perbincangan kami pun mengarah pada kabar bahagia yang waktu itu akan Fira sampaikan.
            “Oh iya Fir, berita bahagia apa? Jadi penasaran nih”, aku memulainya.
            Fira hanya tersenyum dan menggengam tanganku.
            “Hemmm sepertinya aku akan mendahului kamu. Aku telah menemukan tulang rusuk yang selama ini dirahasiakan keberadaannya oleh Allah. Satu bulan lalu, seseorang datang ke orangtuaku. Orangtuaku merestuinya. Aku memang sudah lama juga menaruh hati padanya. Do’akan aku ya Syah, rencananya dua bulan lagi”.
            Aku memeluk Fira dan lagi-lagi aku tidak sadar saat air mata mengalir di pipiku.
            “Selamat ya Fir, akhirnya kamu menemukan tulang rusuk yang selama ini kamu cari. Aku pasti do’akan yang terbaik buat kamu”.
            Fira melepaskan pelukannya.
“Makasih ya Syah. Aku do’akan juga kamu segera menyusul. Oh iya kamu juga mengenali siapa orangnya. Tapi kamu ga perlu tau sekarang”.
“Oh ya? Siapa ya aku jadi penasaran?”.
“Nanti kalau waktunya tepat aku pasti kasih tau. Kok kamu jadi nangis gitu sih, ga usah nangis gitu dong. Aku kan ga akan pergi kemana-mana lagi”.
“Aku nangis bahagia tau, aku terharu aja sahabatku sekarang sudah mau dibawa orang lain, nanti siapa yang ngurusin rumah singgah ini, kamu tega ya ninggalin aku sendirian”.
Aku sendiri pun bingung aku menangis karena apa. Karena berita bahagia ini? Atau karena hatiku yang belum bisa menerima semua ini.

****
        
Pagi ini kepalaku sangat berat. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku. Fira yang saat itu akan siap-siap ke kantor segera menghampiriku saat melihat aku kesulitan untuk bangun. Disentuhnya kening dan leherku saat itu. “Astaghfirullah, badan kamu panas banget Syah. Kita ke dokter sekarang ya”. Aku tidak menjawab apapun, aku langsung dibawanya ke dalam mobil. Fira menghubungi orangtuaku dan menjemput ummi di rumah. Ternyata ummi sudah siap-siap di depan pintu pagar. “Pantes tadi malam ummi ga bisa tidur, ternyata kamu sakit Syah”, diperjalanan ummi terus memijit kepalaku, walaupun sudah besar begini ummi masih saja memperlakukan aku seperti anak kecilnya. “Iya nih ummi, Aisyah ga bilang kalo sakit. Tadi pagi tiba-tiba udah panas banget badannya, Fira jadi khawatir takutnya kenapa-kenapa”, Fira menyahut sambil mengendarai mobil. “Jadi ngerepotin nak Fira, ke kantornya jadi terlambat ya Fir?”, jawab ummi. “Ga apa-apa ko ummi, Fira udah izin telat”.
Aku masuk ke ruang pemeriksaan dengan ummi. Setelah mengantar ke rumah sakit, Fira langsung pergi ke kantornya. Ummi sudah menelepon Nuril untuk menjemput aku dan ummi nanti, adikku yang laki-laki yang saat ini sedang libur semester kuliah. Aku jadi merepotkan banyak orang. Ternyata aku hanya kecapean saja, darahku rendah dan maag ku kambuh karena akhir-akhir ini aku tidak teratur makan. Nuril sudah menunggu di depan rumah sakit, kami pun segera menaiki mobil. Kali ini aku pulang ke rumah, untuk beberapa hari ini sampai aku sembuh total baru aku akan kembali ke rumah singgah. Hari ini juga aku izin masuk kantor. Banyak pekerjaan yang aku tinggalkan rupanya.
Sudah empat hari aku diam dirumah, badanku sudah mulai segar kembali. Dari ruang tengah, terdengar suara orang yang mengetuk pintu rumah. “Nuril tolong bukain pintunya, ada tamu kayanya”. Nuril langsung membukakan pintunya, “Eh Kak Fira, Kak Dika, Ka Umam, hemmm sama Kania ya, ayo masuk”. Dika, Umam dan Nuril berbincang di ruang tamu, Fira dan Kania langsung menghampiriku di ruang tengah. “Gimana udah baikan Syah?”, tanya Fira padaku, “Alhamdulillah udah baikan Fir. Eh Kania, sini sayang, Kak Aisyah kangen banget sama anak-anak di rumah singgah”. “Dika sama Umam katanya mau jenguk kamu, nih mereka bawain makanan buat kamu Syah”. Fira memberikan dua kantung kresek berwarna putih, yang satu dari Dika dan yang satu dari Umam. Sudah hampir satu jam mereka ada disini, Fira harus kembali ke rumah singgah, Dika dan Umam juga punya urusan masing-masing. Dika dan Umam menuju ruang tengah untuk melihat keadanku sekaligus mau pamit pulang. “Aisyah, kita pamit pulang ya, syafakillah”, kata Umam saat itu. “Syafakillah Syah, udah ditunggu sama anak-anak tuh di rumah singgah. Afwan ganggu waktu istirahatnya. Kita pamit pulang dulu. Assalamu’alaikum”, ucapan Dika saat itu membuatku teringat pada rencana pernikahan Dika dan Fira dua bulan kedepan.      

****

Di kantin tempat kerja Dika dan Umam. Mereka memperbincangkan sesuatu yang serius.
“Mam, afwan ya kalo akhir-akhir ini saya sering berkomunikasi dengan Fira”, Dika meminta maaf pada Umam.
“Ya silahkan aja, saya tau kalian berdua sudah bersahabat sejak kecil. Jadi pasti kalian sudah seperti kakak dan adik.  Asal jangan kamu ambil Zhafira dari saya ya. Dua minggu lagi, jadi dag dig dug nih Dik”, jawab Umam.
“Santai aja bang, saya segera menyusul kamu dan Fira. Fira wanita baik, jaga dia baik-baik. Saya sudah anggap Fira seperti adik saya sendiri”, Dika menegaskan.
“Siap bang! Ngomong-ngomong, kapan mau menyerahkan proposal pada orangtua dan murabbi akhwat itu?”, Umam mengalihkan pembicaraannya.
“Mungkin setelah kamu dan Fira menikah. Saya harus memantapkan hati dan mencari tahu banyak informasi tentang akhwat itu. Salah satunya ya lewat Fira dan murabbinya. Murabbinya sudah saya hubungi. Kalau waktunya sudah tepat saya hubungi dia dan orangtuanya”, jawab Dika mantap.

****

 Satu bulan lebih dua minggu berlalu, ini berarti dua minggu lagi mendekati hari H, pernikahan Dika dan Fira. Tapi sampai saat ini Fira belum mau memberitahu siapa calon imamnya kepadaku. Fira sibuk mempersiapkan pernikahannya dan jarang sekali datang ke rumah singgah. Handphoneku berdering, satu pesan masuk dari ummi Meyda, murabbiku. “Assalamu’alaikum wr wb. Ukhti, punya waktu sore ini? Ada hal yang harus disampaikan, ummi tunggu di mesjid dekat kantormu ya”.
Sore ini aku langsung menuju mesjid dekat kantorku, ummi Meyda sudah menungguku disana. Tanpa berbicara panjang, ummi langsung menyampaikan maksudnya ingin bertemu denganku. Katanya ada seseorang yang  mengkhitbahku, yang ingin menjadikan aku istrinya. Aku sangat kaget, sedangkan hatiku belum bisa berpaling dari Dika, sosok laki-laki yang aku inginkan, yang sebentar lagi akan menikah dengan sahabatku Fira. Tapi kalau aku terus dihantui perasaan seperti ini malah akan menyakiti hatiku sendiri. Aku mulai ikhlas dan menerima semuanya. Aku mulai membuka hatiku untuk laki-laki yang akan mengkhitbahku sekarang. Pilihan murabbiku pasti yang terbaik untukku. “Aisyah, ikhwan yang datang pada ummi sepertinya sungguh-sungguh. Ummi mengenalnya sebagai ikhwan yang sholeh dan bertanggung jawab. Amalannya bagus, sikapnya baik, ummi rasa ikhwan ini baik untuk mu. Dia juga sudah mengenalmu, kamu juga mengenalnya”, papar ummi. “Memang ada yang mau mengkhitbahku ummi, laki-laki mana yang mau menjadikan aku istrinya?”, jawabku merendah. “Buktinya ada yang menghubungi ummi untuk mengkhitbahmu”, jelas ummi lagi. “Kalau boleh tau, siapa ummi orangnya? Supaya Aisyah mudah untuk menjalankan proses ta’aruf”. “Laki-laki itu teman kampusmu, namanya Handika El Shirazy”, jawab ummi.
Apa aku tidak salah dengar? Dika? Bukankah dia akan segera menikah dengan Fira? Apakah ini Dika yang lain? Tapi ini jelas-jelas Dika, laki-laki yang aku cintai. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Aku jadi semakin tidak mengerti. Aku terdiam tidak berbicara apapun, wajahku terlihat bingung saat itu. “Bagaimana Aisyah? Apa kamu akan menerimanya?”, tanya ummi. Aku terdiam lagi. “Aisyah?”, tanya ummi lagi. “Aisyah belum tau ummi, nanti Aisyah kabarkan lagi, beri Aisyah waktu tiga hari saja”.
Kalimat itu mengakhiri perbincanganku dengan ummi. Di perjalanan pulang aku seperti orang bodoh yang baru saja turun dari roller coaster. Banyak pertanyaan dikepalaku, jawabanku sekarang hanya satu, Fira. Saat itu juga aku langsung menuju rumah Fira. Pintu rumahnya terbuka, ada Fira sendirian di ruang tamu yang sedang menyusun undangan pernikahan. “Assalamu’alaikum”, “Wa’alaikumsalam, eh Aisyah sini masuk”, jawab Fira. Aku langsung mengambil salah satu undangan yang menumpuk di atas meja. Undangan Pernikahan, Umam Ramadhana & Zhafira Nur Kamilah.
“Umam?”, tanyaku kaget.
“Iya, tadinya aku mau ngasih tau nanti, tapi kamu udah keburu liat undangannya, jadi ketauan deh”, jawab Fira.
“Aku jadi ga ngerti sama semuanya. Bukannya kau mau nikah sama Dika kan?”.
“Dika? Jadi selama ini kamu kira laki-laki yang mau menikahiku Dika? Dia udah kaya abangku sendiri. Ga mungkin lah aku nikah sama dia, aku udah tau sifat konyolnya kaya gimana waktu kecil. Kayanya kamu emang udah harus tau yang sebenarnya Syah”, jawab Fira sambil tertawa.
“Kamu, Umam, Dika, Ummi Meyda, berhasil bikin aku kaya orang bodoh tau ga?”, kataku kesal.
“Afwan ya. Masa seorang Aisyah yang sholehah, calon hafizah yang tinggal lima juz itu kaya orang bodoh sih? Ga keliatan ko kaya orang bodohnya”, canda Fira.
Aku melempar Fira dengan bantal yang ada di kursi.
“Aduh Aisyah, jahat banget sih”, katanya masih tertawa.
Dengan perasaan yang lega, aku menceritakan tentang maksud Dika yang mau mengkhitbahku.

****

Hari yang sakral untuk Fira dan Umam tiba juga. Mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri yang siap membentuk keluarga yang sakinah. Satu minggu setelah pernikahan mereka, Dika datang ke orangtuaku. Aku pun menerimanya. Tiga bulan menjalani proses ta’aruf, kami langsung mempererat ikatannya dengan ucapan janji suci.
Inilah skenario cinta-Nya yang telah dipersiapkan untukku. Kini aku bahagia hidup bersama seseorang yang aku cintai dengan tulus, begitupun sebaliknya, Dika mencintaiku dengan sangat tulus. Tak pernah terbesit sedikit pun dipikiranku kalau akhirnya akan indah seperti ini. Tentang catatan di facebook waktu itu, ternyata itu ditujukan untukku. Katanya sekarang berlian yang tak ternilai harganya itu sudah menjadi miliknya.
View Post