Bismillahirrahmaanirrahiim..


Tidak kerasa sudah masuk materi ke-3 tentang mindful reading. Pada tantangan kali ini saya tidak lagi memiliki target untuk cepat selesai, tetapi lebih menikmati proses membaca. Mengajukan pertanyaan, memperhatikan setiap detail katanya, ini membuat saya menjadi lebih pelan dan hati-hati dalam membaca. Apalagi buku yang dibaca kali ini masuk ke dalam level 4 menurut saya.


Berikut adalah "Mindful Reading Journal" yang sudah saya lakukan beberapa hari ini.


Hari ke-1


Hari ke-2



Hari ke-3



Refleksi Akhir Minggu

View Post

 


Bismillahirrahmaanirrahiim..


Di tantangan kedua ini, kami ditantang untuk menuliskan my reading journey atau perjalanan membaca dari 10 tahun yang lalu, kemudian membuat action plan yaitu rencana membaca sesuai peran yang diemban saat ini.


Setelah saya tuliskan semuanya, ternyata perjalanan membaca sangat dipengaruhi oleh peran yang sedang kita jalani serta orang-orang yang ada di sekitar kita.


Ketika SMK, saya mengikuti organisasi keagamaan di sekolah. Ini cukup membuat banyak perubahan dalam diri saya, sehingga saya memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam sambil bekerja di salah satu Pondok Pesantren di Kota Bandung.


Setelah menikah, saya bertemu dengan suami yang sangat suka membaca. Sehingga bacaan saya pun sebagian besar terpengaruh oleh bacaan suami.

Berikut "My Reading Journey" dan "My Action Plan" di tangangan kedua ini.







View Post


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Tantangan pertama dari Kelas Membaca Bermakna adalah "Find your big why!" Menggali big why ternyata bukanlah hal yang mudah. Saya perlu sejenak menyendiri dan mengerutkan dahi. Bertanya pada hati kenapa saya harus membaca. Kalau sudah sampai pada tahap "Rasanya gak ada alasan lain lagi!", itulah big why kita.




Kenapa saya perlu membaca? Karena membaca adalah perintah Allah swt.

Mengapa kalau perintah Allah swt? Saya harus menaatinya.

Bagaimana cara menaatinya? Menciptakan kebiasaan membaca agar tumbuh rasa cinta pada membaca. Cinta membaca membuat kita semakin haus untuk belajar.

Mengapa harus haus belajar? Karena manusia lemah dan bodoh, belajar akan membantu kita mendapat banyak ilmu. Ilmu menuntun kita beribadah, bermuamalah, dsb. Semakin banyak ilmu, akan semakin mengenal Allah swt.

Mengapa harus mengenal Allah swt? Karena semakin mengenal-Nya, akan semakin mencintai-Nya.

Semoga alasan ini bukan hanya sekedar tulisan, tapi juga tertanam dalam hati. Agar setiap rasa malas hadir, selalu ingat lagi bahwa semakin banyak membaca, semakin saya akan mengenal Allah swt melalui ilmu-Nya yang tersebar di muka bumi.

Tantangan selanjutnya adalah menentukan otot membaca vertikal dan horizontal. Ternyata, ini juga bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Mengingat-ingat genre dan judul buku apa saja yang telah saya baca dalam satu tahun kebelakang.

Memang harusnya saya rencanakan dan catat di awal tahun ya, supaya jelas dan terukur target membacanya hehe.



View Post

 


Tidak ada istilah Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja dalam islam. Kalau kita cek dalam sirah, tidak pernah ada istilah tersebut, padahal banyak shahabiyah yang bekerja, banyak pula shahabiyah yang hanya mengabdi di rumah untuk keluarganya.


Sayyidatina Khadijah, seorang pebisnis sukses, tidak disebut momprener waktu itu. Sayyidatina Fatimah yang mengabdikan diri di rumah, tidak disebut Ibu Rumah Tangga waktu itu.


Sebelum membahas lebih jauh, kita harus tau apa sebenarnya peran seorang muslimah.


1. Sebagai anak. Anak yg berbakti pada orangtua.

2. Sebagai istri. Istri yg taat pada suami.

3. Sebagai ibu. Ibu yg menjalankan peran sebaik-baiknya untuk anaknya.

Ketiga peran ini memiliki satu peran besar yaitu sebagai individu yg taat pada Allah.


Definisi mana yang lebih baik, akan berubah seiring perkembangan zaman.


Zaman nenek saya, wanita yang hebat adalah wanita yg anggun dan diam di rumah.


Zaman Ibu saya, wanita yg hebat adalah wanita yg punya karir bagus, bisa menghasilkan banyak uang.


Di generasi saya, wanita yg hebat adalah wanita yg bisa hebat di rumah dan hebat juga karirnya.


Di era sekarang, dimana ilmu agama sudah banyak yang menyebarkan, dalil-dalil yang menganjurkan bahwa wanita lebih baik di rumah begitu banyak kita temukan. Sehingga hal ini menjadi perdebatan, munculah istilah Ibu Rumah Tangga dan Ibu Bekerja.


Ibu Bekerja belum tentu buruk dalam mengemban tugas sebagai seorang istri dan ibu. Bisa saja waktu bersama anak dan suaminya memiliki waktu yg berkualitas, sehingga anak2nya menjadi anak yg shalih shalihah, suaminya ridho.


Ibu Rumah Tangga belum tentu tidak bisa memberi banyak manfaat. Ibu Rumah Tangga masih bisa memberi manfaat dari dalam rumah, masih bisa menghasilkan rupiah, pahalanya membereskan rumah jika dikerjakan dgn ikhlas akan bernilai besar dimata Allah.


Jadi, apakah saya lebih baik menjadi Ibu Rumah Tangga atau menjadi Ibu Bekerja?


Yang lebih baik adalah..


لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا

"Siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya."


Yang paling baik adalah muslimah yg menjalankan peran sebagai seorang anak, istri, ibu, dan individu dengan maksimal. Peran yg dijalani dgn ikhlas, untuk ibadah, yg bisa mengundang keridhoan Allah.


Bersambung...

View Post


Deuter fox 40 ini sudah menemani saya mendaki gunung Prau, Lawu, dan beberapa kali kemping.


Deuter fox 40 memiliki daya tampung 10-20 kg, volume 40 liter, berat 1,3 kg, dengan dimensi 68x30x24 cm.


Bahan utamanya adalah deuter ripstop 210D, bahan pendukung deuter ballistic, dan bahan dalammya deuter super polytex.


Memiliki sistem backpanel alpine system, yaitu kombinasi dari keamanan, kenyamanan, dan ventilasi udara. Dilengkapi juga dengan vari quick system, dimana ukuran torsonya dapat diatur sesuai ukuran panjang punggung kita. Terdapat 2 frame besi ringan di bagian belakangnya.


Punya banyak pocket antara lain, di bagian atas luar, atas dalam, kanan dan kiri, dan pocket untuk menyimpan botol air di kanan dan kirinya. Dilengkapi juga strap untuk menyimpan trekking pole dan strap-strap lain untuk menggantungkan tali di bagian depannya.


Sejauh ini keluhannya hanya pada hipbelt yang kurang nyaman di pinggul saya, karena deuter fox 40 ini sebenarnya diperuntukan untuk remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. Tapi tidak menutup kemungkinan digunakan oleh dewasa yang memiliki ukuran tubuh sesuai.


Sekian review deuter fox 40 liter.





View Post

Ini adalah mager terlama saya. Satu tahun lebih gak ada update apa-apa di blog ini. Satu tahun lebih saya gak menyentuhnya sama sekali. Sok ngaku-ngaku blogger deh.

Harusnya saya bisa menghasilkan banyak tulisan di masa pandemi begini.

Harusnya udah gak perlu bingung nulis apa, karna begitu banyak hal dan hikmah yang didapatkan setiap harinya.

Harusnya saya bisa lebih sering nulis karena menulis adalah salah satu media release stress untuk saya.

Harusnya gak ada alasan lagi buat gak nulis.

Harusnya aku yang disanaaa... *ngaku yang baca sambil nyanyi wkwk

Mudah-mudahan bisa konsisten nulis lagi ya. Ini adalah resolusi kapan tau yang gak juga ter-realisasi.

Sekian curhat saya sore ini.

View Post

Staycation di Grand Tebu Hotel Bandung

Gak mesti jauh-jauh, liburan juga bisa dilakukan di dalam kota tempat tinggal kita sendiri. Konsep liburan di dalam kota disebut dengan staycation. Disingkat dari kata 'stay' (tetap) dan 'vacation' (liburan) itulah asal ungkapan staycation.

Kegiatan yang bisa dilakukan untuk staycation antara lain piknik ke taman bermain, mengunjungi museum, menikmati festival dan event, sampai menginap di hotel atau vila.

Staycation bisa jadi alternatif liburan bagi siapapun yang pingin menghilangkan penat tapi cuma punya waktu singkat atau budget minim.

Memanfaatkan waktu libur yang sebentar, kami memilih untuk menginap di hotel. Sebelumnya, kami mencari hotel yang dilengkapi fasilitas kolam renang dan sarapan pagi, dengan menyesuaikan budget juga tentunya. Muncul-lah beberapa pilihan hotel di sekitaran kota Bandung, namun pada akhirnya pilihan kami jatuh pada Grand Tebu Hotel Bandung. Bermodalkan membaca review di beberapa situs.

Out of expectation.

Kalimat yang pertama kali muncul di benak saya dan suami. Penyambutan yang kurang ramah, tempat parkir yang susah, dan karyawan yang kurang membantu.

Setelah mendapatkan kunci, kami segera menuju kamar di lantai (lupa lagi). Begitu masuk, taraaaaa! Kasurnya single bed. Kami langsung complain via telepon, karena kami merasa pesan double bed. Mereka hanya jawab, "Nanti kalau ada kamar double bed yang kosong dipindah." Akhirnya sampai pulang tidak ada respon apa-apa.

Bertambahlah poin minusnya.

Fasilitas kamar lengkap dan semuanya berfungsi dengan baik. Ukuran kamar standar kira-kira 3m x 7m, rasanya kurang cocok membawa toodler yang sedang aktif-aktifnya lari kesana kemari, gampang kejedot furniture. Pemandangan kamar cukup bagus, yaitu lampu-lampu perkotaan yang menyala saat malam.

Sorenya kami mengecek kolam renang di lantai paling atas. Ternyata kolamnya kecil, lebih cocok untuk anak-anak. Untuk ukuran orang dewasa terlalu sempit. Akhirnya mengurungkan niat buat berenang. Selain kolam renang, diatas ada tempat fitness juga.

Tapi gak minus semuanya kok, mungkin saat itu kami lagi kurang beruntung aja. Poin minusnya terbayarkan dengan makanannya. Makanannya banyak, enak, menunya variatif.

Kalau dinilai secara keseluruhan, menurut saya 7.8 dari 10. Mau bintang berapapun, sebagus apapun fasilitasnya, kalau pelayanannya kurang baik dan kurang ramah, membuat kita berpikir dua kali untuk kembali lagi.





View Post