Cahaya di Atas Cahaya


Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, Allah memampukan orang-orang yang terpanggil.
Menuju Baitullah adalah seni menanti panggilan Allah. Merupakan cita-cita setiap muslim untuk menyempurnakan rukun islam, begitupun dengan saya.

Niat menuju Baitullah semakin kuat ketika saya membaca buku berjudul Cahaya di Atas Cahaya karya Oki Setiana Dewi. Kisah yang begitu menyentuh, membuat kerinduan terhadap tanah suci semakin menggebu. Rabbi... Mungkinkah Engkau akan mengundang diri ini sementara dosa masih menyelimuti?

Saya terbiasa menuliskan mimpi-mimpi dalam sebuah buku. Sebagai alarm bahwa 'Banyak mimpi yang perlu diwujudkan!'. Ingat sekali saat itu tahun 2012 (selesai membaca buku Cahaya di Atas Cahaya) saya memberanikan diri untuk menuliskan 'Berangkat Umroh Sama Keluarga!'. Jujur, menuliskannya saja saya sudah pesimis. Ada rasa khawatir yang tidak mungkin terwujud.


Senin, 14 Juli 2014
Seperti biasanya setelah tausyiah senin pagi, kami melakukan halaqah di Mesjid Daarut Tauhiid Bandung (salah satu agenda yang wajib dilaksanakan di kantor). Dan tidak seperti biasanya, hari ini yang hadir sangat sedikit, bisa dihitung jari. Umi saat itu bilang "Yang lainnya kemana? Sedikitan ya hari ini? Semoga yang hadir saat ini segera diundang Allah ke Baitullah". Kami semua meng-aamiin-kan, sama seperti meng-aamiin-kan do'a saudara-saudara yang diberi kesempatan lebih dulu berangkat kesana. Saya merasa tidak ada pertanda apapun.

Hingga pada siang hari saat saya sedang sendiri di ruangan kantor, handphone saya berdering. Tidak tercantum nama disana. Nomor telepon diawali dengan kode daerah 021. "Orang Jakarta? Siapa ya, mungkin Kakek, Bibi, atau Om yang tinggal di Jakarta. Karena tidak ada lagi orang yang saya kenal yang tinggal di Jakarta selain Kakek, Bibi, dan Om ".
"Selamat siang dengan Mbak Tia Yusnita?", kata seorang wanita diujung telepon itu.
"Iya benar, maaf ini dengan siapa?", suaranya terdengar asing ditelinga saya.
"Kami dari Wardah Kosmetik ingin mengucapkan selamat karena Mbak Tia sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Blog Wardah yang diadakan beberapa bulan lalu. Mbak Tia mendapatkan hadiah utama yaitu Spiritual Journey atau Ibadah Umroh ke Makkah. Selamat ya Mbak sekali lagi, untuk keberangkatan akan kami infokan kembali ke nomor telepon ini. Terimakasih", panjang lebar penelepon itu menjelaskan.
Tiba-tiba saja lidah saya kaku. Hanya mengucapkan kalimat singkat, "Oh iya terimakasih banyak Mbak atas informasinya". Tut.. tut.. tut... Telepon terputus, penelepon tadi sudah mengakhiri pembicaraannya. Saya hanya terdiam, mematung, masih tidak percaya. Memukul-mukul pipi, sesekali melihat handphone, melihat layar monitor. Khawatir ini hanya mimpi.

Beberapa menit kemudian saya baru tersadar, "Ya Rabbi, benarkah Engkau mengundang hamba? Umroh? Makkah? Baitullah?". Seketika tubuh saya gemetar, air mata mengalir, masih tidak percaya. Langsung bersujud syukur. Dalam sujud air mata saya pecah tak tertahankan, tak terkatakan lagi. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur Alhamdulillah... Allahu Akbar... Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Untuk meyakinkan, saya segera membuka fanpage resmi Wardah, dan benar saja pengumuman itu sudah terpampang. Link pengumuman lomba klik disini. Subhanallah, alhamdulillah... Lagi-lagi air mata mengalir tak tertahankan, melihat nama saya tertera dalam pengumuman itu. Saya tidak ingin terburu-buru mengabarkan Mamah atau Bapak. Biar mereka mendengar dari mulut saya sendiri. Berniat ingin sekali memberikan tiket ini untuk Mamah atau Bapak. Tapi, ternyata hadiah itu tidak bisa dipindahtangankan.

Sampai dirumah, saya langsung memberikan kabar ini. Mamah langsung memeluk erat tubuh ini sambil mengucap, "Alhamdulillah.. Allahu Akbar... Mamah sama Bapak ga bisa kasih teteh apa-apa, tapi Allah kasih langsung ke teteh, lewat apa aja jalannya". Bapak hanya tersenyum, saya tau bapak sedang menahan air matanya. Kembali air mata saya pecah, haru. Lagi-lagi masih tidak percaya.

Saya mungkin berlebihan, tapi itulah yang benar-benar saya rasakan. Bagi sebagian orang beribadah umroh mungkin hal yang biasa, kapan pun bisa menunaikannya. Tapi tidak bagi saya. Untuk melanjutkan sekolah pun sebuah perjuangan yang besar, apalagi untuk pergi ke Baitullah.

Apapun mungkin bagi Allah, sekalipun menurut kita hal itu amat sangat tidak mungkin. Ucapan umi di halaqah pagi tadi, Allah wujudkan di siang harinya. Mimpi dua tahun lalu terjawab sudah hari ini. Ramadhan kariim, Ramadhan syahru du'a, Ramadhan syahru qur'an. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman)

Negeri Cahaya di Atas Cahaya, jika Allah benar sampaikan, izinkan kaki ini menginjak di tanah haram-Mu. Meskipun belum bersama keluarga, suatu saat nanti kami akan pergi bersama. Subhanallah... Tetesan air mata mengalir tiada henti hingga detik saya mengetik tulisan ini. Semoga sahabat yang sempat membaca tulisan ini, segera Allah undang ke Baitullah. Aamiin.
Jangan merasa tidak mungkin. Sebab ke rumah Allah itu soal undangan. Jika Allah sudah berkehendak, siapa yang bisa menolak. Tugas kita sekarang, hanya menunujukkan sebuah kepantasan, kepantasan untuk menerima undangan terbaik ke rumah-Nya. InsyaAllah, Allah yang memampukan. -Febrianti Almeera

8 comments:

  1. Tia, selamat ya atas undanganNya.. terharu bacanya,
    titp do'a. saya juga sedang menanti undangan yg sama,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jazakallah Kang Alimin.
      Aamiin, semoga segera Allah undang..

      Delete
  2. Selamat Mba Tia Yusnita, itu aku lho yang nelpon Mba waktu itu. Hihihi. Alhamdulillah :) Selamaaaat....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduuuh jadi malu dibaca sama yang neleponnya hehe. Iya makasih Mba, alhamdulillah... Salam kenal Mba :)

      Delete
  3. barakallahu Tia :") do'akan semoga mendapat undanganNya juga .. *peluuuuk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih teteeeeeh *peluuuk*
      Aamiin, semoga segera Allah undah juga :")

      Delete
  4. Barakallah Tia.. Tertampar ane bacanya :D
    Nitip do'a nanti disana ya, semoga dapat undangan juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Afnaaan.
      Aamiin, semoga segera Allah undang juga :)

      Delete