Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Rudal memang membuat gedung-gedung hancur seketika
Tapi tidak pada harapan
Tidak lenyap, bahkan tidak akan pernah mati

Ada sengenggam harapan menggantung di langit
Memanggil-manggil nama mereka
Syuhada... Syuhada...

Ketika asap dan peluru berterbangan
Hilir mudik diatas atap-atap
Bak kapas ditiup angin
Pertempuran itu tepat di depan mata
Senapan, peluru, bulldozer, api, darah

Sayang, mereka bukan sedang menonton film

Anak-anak tak berdosa itu menjadi pemeran utamanya
Menangis, menjerit
Namun siapa peduli?

Kalian tetap berjalan untuk mencari mangsa selanjutnya
Kalian hancurkan harapan bak puing-puing bangunan

Duhai, pasukan-pasukan berlangkah angkuh

Penggenggam senjata nan mahal tak ternilai
Dimana letak hatimu?
Apa kau letakan hati itu di balik dinding tak tertembus?
Apa kau lupa,
kalau kau seorang manusia?
Entah, mungkin tak pantas lagi disebut manusia

Duhai, yang kau hilangkan nyawanya pada tubuh kecil tak berdosa
Lakukan itu sesuka hatimu, sepuas nafsumu
Kami tidak akan pernah takut
Karna Tuhan telah janjikan dalam kitab-Nya

Yang haq akan menang
Yang bathil akan bertekuk lutut

Episode hidup ini memang mengerikan
Tapi yakinlah, cinta-Nya tanpa jeda
Yakinlah, kau tak pernah sendiri
Ada yang menjagamu
Dialah sebaik-baik penjaga

Ya Rabbi... Ya Aziz... Ya Ghofur...
Lindungi saudaraku
Teguhkan, kuatkan
Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan

 
Untukmu,
Saudaraku di tanah Palestina

Dariku,
yang belum mampu berbuat apa-apa

Tia Yusnita
Gegerkalong, Jum'at/11 Juli 2014 Pukul 12.01
View Post
Salah satu puisi yang pernah saya ikut sertakan dalam kompetisi menulis nasional. Tapi, belum diberi kesempatan untuk lolos hehe. Happy reading! :)



Jingga menemani senja
Adakah yang se-ikhlas itu?
Selalu hadir tanpa kesah
Menyambut matahari kembali ke peraduannya
Dari titik ini aku memandang
Bersama senja

Kejora hadir menyapa
Bersama seuntai senyum bahagia
Menyapa penduduk bumi yang sedang tertidur lelap
Tetapi aku terbangun
Aku menikmati rembulan
Bersama malam

Haru menyambut matahari
Berlapis kesejukan di hati
Tak ingin ku bergegas pergi
Hingga esok dan esok lagi
Ingin tetap disini
Bersama pagi

Hujan pun tak pernah enggan
Memberikan raganya untuk tanah ini
Hingga darinya, kehidupan tak ada kata henti
Menghidupi setiap makhluk bumi

Semangatku membara
Menatap hamparan alam raya
Seperti petani tua
Yang tak putus asa
Menunggu padi merunduk dengan ikhlasnya

Hilir mudik mereka
Dengan bekal apa adanya
Tanpa meminta belas kasihan dari siapa
Ikhlas, kerja keras
Demi keluarga dicinta

Sederhana
Yang membuatnya sangat bermakna
Bagi siapa saja yang singgah disana
Tak mudah lupa akan pesonanya

Tiba pada suatu masa
Ketika aku harus beranjak dari tanah ini
Bagiku
Seperti merangkai kata tanpa makna
Melukis pelangi tanpa warna
Menggoreskan mimpi tanpa asa

Aku yakin
Cinta-Nya untuk Negeri ini tanpa jeda
Tak berhenti sampai disisni

Hingga aku menyadari
Aku mulai terhanyut dalam bisikan angin
Terlelap dalam hangat mentari
Menyatu bersama nyanyian alam
Indonesia-ku
View Post